Futures minyak sawit Malaysia bergerak sedikit naik dan diperdagangkan di atas MYR 4.550 per ton setelah koreksi baru-baru ini, didukung oleh prospek ekspor yang membaik. Data dari perusahaan survei kargo menunjukkan bahwa pengapalan minyak sawit untuk periode 1–15 Juli naik antara 4% hingga 12,4% dibanding periode yang sama di bulan Juni, menandakan penguatan permintaan eksternal. Malaysia juga menaikkan harga referensi crude palm oil untuk bulan Agustus sambil mempertahankan bea ekspor pada level 10%. Pada saat yang sama, harga minyak mentah tetap tinggi di tengah gangguan pasokan di Selat Hormuz, sehingga meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Namun, momentum kenaikan tertahan oleh penguatan ringgit dan pelemahan minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago. Tekanan tambahan datang dari ekspektasi permintaan yang melemah di negara-negara pengimpor utama. Di India, impor minyak sawit turun ke level terendah dalam 14 bulan pada bulan Juni karena berkurangnya diskon terhadap minyak nabati pesaing yang menekan minat beli, sementara ekonomi China tumbuh pada kuartal II dengan laju paling lambat sejak akhir 2022, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap permintaan ke depan.