Rupiah menguat ke kisaran Rp18.000 per dolar AS pada hari Kamis, naik untuk sesi ketiga berturut-turut seiring pelemahan dolar AS lebih lanjut setelah data inflasi AS yang lebih rendah meredam ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Di dalam negeri, sentimen didukung oleh rencana pemerintah untuk meningkatkan upaya menstabilkan harga pangan dan menahan inflasi di tengah risiko pasokan terkait El Niño. Pada Juni, inflasi tahunan meningkat, mendekati batas atas kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5%–3,5%. Meski demikian, penguatan rupiah tertahan oleh harga minyak mentah yang tinggi, yang kembali memunculkan kekhawatiran terhadap nilai impor negara. Sikap hati-hati juga masih terasa di kalangan pelaku pasar karena kenaikan harga BBM non-subsidi, lemahnya aktivitas pabrik, serta kekhawatiran terhadap pendapatan dan belanja rumah tangga yang membayangi prospek pertumbuhan. Fokus pasar kini beralih ke rapat kebijakan Bank Indonesia pekan depan, dengan perhatian tertuju pada apakah para pembuat kebijakan akan mempertahankan bias pengetatan setelah kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juni, sementara penurunan cadangan devisa terus menekan nilai tukar.