Kontrak berjangka bensin AS bergerak di kisaran sekitar $3,18 per galon, tertahan di level tertinggi lebih dari dua minggu, seiring melambatnya pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz dan mandeknya negosiasi AS–Iran. Prospek tercapainya kesepakatan damai tetap suram setelah Presiden Trump memberi sinyal rencana untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran, sementara Menteri Keuangan Scott Bessent mengindikasikan bahwa sanksi baru bisa diumumkan pekan ini.
Pada saat yang sama, sejumlah kapal tambahan kembali diserang di jalur pelayaran utama tersebut pada akhir pekan lalu, termasuk kapal tanker yang terhubung dengan Abu Dhabi National Oil Co. Meski terjadi gangguan ini, produsen di Timur Tengah masih mengalirkan volume minyak mentah yang signifikan melalui Teluk Persia.
Di sisi lain, serangan berulang Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah mengganggu pasokan bahan bakar, sehingga memicu pembatasan penjualan bensin di sedikitnya dua wilayah dan kebijakan baru yang membatasi ekspor produk olahan. Sebagai respons, Rusia memperpanjang larangan ekspor diesel yang sudah berlaku hingga Januari 2027, sehingga terus menekan pasokan middle-distillate secara global.