Data Jerman terus mengecewakan para investor, menciptakan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk euro, yang juga merosot terhadap dolar AS pada sesi satu perdagangan setelah rilis laporan ekonomi zona euro yang lemah.
Menurut data tersebut, indeks harga konsumen (CPI) akhir Jerman pada Januari tahun ini turun 0,8% dibanding Desember 2018. Dibandingkan Januari 2018, indeks tersebut naik 1,4%. Namun, euro hanya sedikit turun terhadap dolar pada awal sesi Eropa, seiring data yang menunjukkan hasil sangat sesuai dengan prakiraan para ekonom.
Tekanan yang lebih signifikan terhadap pasangan EURUSD diberikan oleh laporan, yang menandakan indeks awal manajer pasokan PMI untuk sektor manufaktur Jerman pada Februari tetap di bawah 50 poin, menandakan penurunan aktivitas, hanya sebesar 47,6 poin, sementara nilai yang diproyeksikan sebesar 49,9 poin. Pada Januari lalu, indeks tersebut sebesar 49,7 poin.
Hal ini berdampak signifikan pada kinerja sektor manufaktur zona euro secara keseluruhan. Menurut hasil survei manajer pasokan, indeks produksi zona euro turun di bawah 50 poin dan sebesar 49,2 poin pada Februari, menandakan penurunan aktivitas.
Hanya indikator-indikator bagus di sektor layanan, baik di Jerman maupun zona euro secara keseluruhan, yang berhasil mengurangi tekanan terhadap euro.
Menurut laporan tersebut, indeks awal manajer pasokan PMI untuk sektor layanan Jerman pada bulan Februarui sebesar 55,1 poin dibanding 49,7 poin pada Januari. Para ekonom sebelumnya telah memperkirakan PMI layanan Jerman akan berada di level 52,9 poin.
Di zona euro secara keseluruhan, menurut IHS Markit, indeks gabungan manajer pasokan, yang terdiri dari indikator aktivitas di sektor manufaktur dan layanan, meningkat ke 51,4 poin pada Februari dari 51,0 poin pada Januari.
Hari ini, risalah rapat bulan Januari Bank Sentral Eropa telah rilis, yang mengkonfirmasi kekhawatiran para trader bahwa regulator tersebut akan memulai program LTRO, yang ditujukan untuk refinancing sistem perbankan jangka panjang.
Risalah tersebut mengindikasikan bahwa pada rapat bulan Januari, para pimpinan ECB membahas pinjaman jangka panjang untuk bank-bank, namun lebih jelasnya akan diketahui pada rapat bulan Maret, saat ECB akan merevisi prakiraan ekonomi. Regulator Eropa tersebut yakin potensi pelaksanan pinjama baru akan mencerminkan tujuan kebijakan moneter secara umum.
Selain itu, ada juga kekhawatiran terkait faktor-faktor negatif bagi perekonomian, yang hanya bersifat sementara. Perhatian khusus ditujukan pada risiko-risiko terkait dengan keadaan Brexit yang memburuk.
