Meski terdapat fakta bahwa tensi perdagangan di dunia meningkat, dan ekonomi global berada di ambang resesi, emas tetap dibawah tekanan.
Tampaknya, peserta pasar masih memilih aset pertahanan lainnya, seperti yen dan dolar AS, yang mengurangi potensi bagi logam mulia kuning ini untuk pulih dari nilainya.
Banyak investor berfikir bahwa Washington dan Beijing kemungkinan akan segera melakukan kesepakatan dan konflik perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia akan berakhir. Namun, harapan untuk ini surut setiap harinya. Saat ini Donald Trump akan melakukan tekanan bagi Eropa.
Menurut beberapa laporan, pimpinan Gedung Putih berencana akan mengakhiri kesepakatan dengan Uni Eropa dan Jepang, berdasarkan pada impor mobil dari wilayah mana yang akan dilarang ke Amerika. Ini merupakan berita yang sangat buruk, pertama-tama bagi Jerman, karena produksi mobil menempati bagian penting dalam sektor industri negara.
Menurut para ahli dari bank investasi Morgan Stanley, konflik dagang selanjutnya dengan Amerika Serikat mungkin akan dimulai dengan mitra Eropa. Para ahli yakin bahwa perang dagang antara Washington dan Brussels akan mengakibatkan pengurangan dalam suku bunga utama di Amerika Serikat, dimaa logam mulia kuning dapat unggul."Sanksi perlawanan UE terhadap produk Amerika mungkin akan lebih serius dibandingkan dengan China. Dibawah kondisi ini, Fed akan dipaksa untuk menurunkan suku bunga untuk mendorong ekonomi negara, dan pada gilirannya akan melemahkan mata uang AS. Karena dolar dan emas berkaitan satu sama lain. Harga logam mulia akan mendapat dukungan bagi pertumbuhan, "ucap perwakilan dari Morgan Stanley.
