Indeks dolar melambung selama akhir pekan perdagangan, ditengah kegelisahan secara umum di pasar keuangan dan meningkatnya sentimen anti risiko. Mata uang AS diminati meski tidak ada alasan khusus untuk menghindari risiko - kombinasi antara faktor-faktor negatif memainkan perannya. Namun, setelah mencapai level tertinggi hampir selama tiga pekan di 97.660, bulls dolar telah mundur - selama sesi Asia hari Senin, greenback mulai kehilangan posisinya, mencerminkan pudarnya dorongan kenaikan.

Dorongan ini terutama dikarenakan oleh dua faktor. Pertama, virus corona dan kedua, eskalasi konflik perbatasan China-India dan di semenanjung Korea. Faktor fundamental seperti ini memicu lonjakan sentimen anti risiko. Risiko gelombang kedua epidemi masih menjadi topik nomor satu di media massa dunia. Meskipun situasi berangsur membaik di Eropa, negara-negara seperti AS, Brasil, Afrika Selatan dan India terus memberikan sinyal-sinyal yang mengkhawatirkan. Bahkan negara-negara yang telah mengalahkan epidemi sekarang mengumumkan wabah baru. Khususnya, Korea Selatan yang melaporkan hampir 50 kasus baru, setengahnya terinfeksi di Seoul. 25 kasus baru telah tercatat di China, sebagian besarnya juga terjadi di ibu kota, Beijing. Kedua negara ini telah memperkenalkan langkah-langkah pembatasan yang ketat untuk menangkal virus saat wabah baru muncul setelah melonggarkan pembatasan. Setelah jeda tiga pekan, Covid-19 kembali muncul di Selandia Baru. Beberapa negara bagian AS melaporkan jumlah rekor kasus infeksi per hari pada akhir pekan lalu.
Bagaimanapun, dalma konteks pasar valuta asing, faktor fundamental ini selama akhir pekan melemahkan pengaruhnya. Ini sebagian dikarenakan oleh pidato dari Presiden AS Donald Trump, yang menegaskan bahwa Gedung Putih tidak akan kembali mengkarantina negaranya. Ia mengaitkan pertumbuhan pasien teridentifikasi Covid-19 dengan kenaikan dalam laju pengujian warga Amerika untuk virus corona. Pada waktu yang sama, menurutnya banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka menjadi pembawa atau carrier virus, karena mereka tidak mengalami gejala. Trump banyak meminta pengujian terhadap warga Amerika diperlambat ("lebih sedikit tes - lebih sedikit virus corona"), namun setelahnya Gedung Putih mencatat bahwa presiden sedang bersikap ironis. Tetapi posisi dari kepala negara ini menghapus kekhawatiran bahwa AS akan memutuskan untuk kembali lockdown. Terkait hal ini, pasar menunjukkan pesimisme, karena trader tidak khawatir akan kenaikan jumlah kasus, namun dengan dampak ekonomi dari pandemi.
Sedangkan untuk konflik di perbatasan China-India dan di Semenanjung Korea, situasi selama akhir pekan lalu tidak memburuk. India dan China bersiap untuk duduk di meja negosiasi - menurut beberapa sumber, Rusia akan berperan sebagai mediator dan menurut sumber lainnya, AS. Pada waktu yang sama, New Delhi dan Beijing telah mengambil "langkah-langkah yang ramah". India membebaskan prajurit China yang ditahap selama konflik di Ladakh, setelahnya China membebaskan prajurit India. Meskipun kedua belah pihak menuduh satu sama lain melanggar perjanjian yang dicapai sebelumnya, mereka jelas menunjukkan niat untuk menyelesaikan situasi melalui jalur diplomasi.
Namun situasi jelas menjadi semakin rumit dengan Semenanjung Korea. Meskipun di sini (sejauh ini) skenario terburuk, yang melibatkan konfrontasi militer terbuka, belum terjadi. Korea Utara memutuskan untuk melancarkan "perang agitasi" dengan tetangga selatannya. Rumah percetakan dan publikasi di Pyongyang telah mencetak 12 juta brosur propaganda untuk disebarkan di Korea Selatan. Sekedar mengingatkan bahwa brosur dengan balon yang diedarkan aktivis Korea Selatan di wilayah DPRK adalah penyebab langsung eskalasi konflik antara kedua negara. Kim Yo Jong, saudara perempuan pimpinan DPRK Kim Jong-un, memperingatkan bahwa Pongyang dapat menggunakan kekerasan terhadap Korea Selatan jika Seoul tidak menghentikan praktik tersebut. Namun, seperti yang kita lihat, sejauh ini Pyongyang telah memutuskan hanya untuk melakukan langkah-langkah propaganda serupa, dan fakta ini mengurangi intensitas ketegangan secara umum.

Perlu juga dicatat bahwa dolar AS tumbuh pada akhir pekan lalu berkat Jerome Powell. Kepala Federal Reserve tersebut meminta kepada para anggota Kongres untuk mengalokasikan dana tambahan sebagai bagian dari program anti krisis selama pidatonya. Selain itu, Powell secara pribadi menandatangani sebuah surat dari 150 ekonom (diantaranya adalah pendahulunya sebagai ketua Fed), dimana mereka meminta para anggota Kongres untuk mengalokasikan uang untuk merangsang ekonomi secepat mungkin. Ingat bahwa House of Representatives AS yang dikuasai oleh Demokrat telah lama meloloskan RUU tersebut, namun Republik dan Gedung Putih mengkritik tajam dokumen ini. Ini berarti bahwa undang-undang dengan tingkat kemungkinan yang tinggi tidak akan disetujui oleh Senat dan oleh karena itu, tidak akan ditandatangani oleh Trump. Dan meskipun Menteri Keuangan AS mengumumkan paket bantuan ekonomi yang baru pada 2 pekan lalu, sejauh ini masih menjadi kata-kata. Mengingat dekatnya pemilihan presiden, RUU tersebut akan dipertimbangkan melalui sudut pandang kampanye pemilihan Trump dan Biden. Oleh karena itu, banyak pakar yang meragukan bahwa surat di atas, yang ditandatangani oleh Powell secara khusus, akan mempercepat proses persetujuan isu ini.
Dengan demikian, dinamika penurunan indeks dolar kini sepenuhnya beralasan: faktor-faktor fundamental yang mendorong mata uang naik sekarang telah kehilangan (atau melemahkan) pengaruh mereka. Berbicara langsung mengenai pasangan euro-dolar, di sini bulls perlu melewati level 1.1215 (garis tengah indikator Bollinger Bands pada chart harian). Dalam situasi ini, akan memungkinkan untuk mempertimbangkan posisi long ke level resistance selanjutnya - ke sekitar 1.1290 (Tenkan-sen line pada timeframe yang sama).
