logo

FX.co ★ Mata uang mana yang akan menggantikan USD?

Mata uang mana yang akan menggantikan USD?

analytics5fb75504d3dfe.jpg

Baru-baru ini, banyak mata uang, termasuk yang utama dan yang sekunder, telah mencoba mendorong dolar AS dari posisi pimpinan dan mengambil alih posisi. Namun, kekuatan tidak seimbang, dan mata uang terkemuka dunia kembali di singgasananya. Pada saat yang sama, para ahli mengakui bahwa cepat atau lambat greenback harus memberikan statusnya kepada beberapa mata uang yang ambisius.

Setelah penurunan singkat, dolar AS berhasil untuk memperkuat. Namun, kenaikan tertahan oleh kebingungan peserta pasar yang sulit untuk memprediksi dinamika dolar AS. Selain itu, jumlah kasus virus corona yang baru di AS masih meningkat. Oleh karena itu, greenback terjebak ditengah dua api. Selain itu, greenback dibeli sebagai aset safe haven atau asuransi jika terdapat situasi epidemiologi yang memburuk. Selain itu, ekspektasi bahwa Fed akan kehilangan kebijakan moneternya juga menempatkan tekanan pada mata uang.

Analis menduga bahwa kedua faktor ini akan menyebabkan penurunan greenback. Pada hari Kamis, 19 November, pasangan euro/dolar turun 0,2% menjadi 1,1827. Namun, kemudian, kembali menutup beberapa kerugiannya dan kembali pada kisaran sebelumnya. Dengan demikian, pada 20 November, pasangan naik di dekat level 1,1877-1,1878. Kisaran tercatat menjadi lebih luas.

Saat ini, hampir tidak mungkin Fed AS akan memutuskan langkah dukungan anggaran. Otoritas negara fokus pada masalah yang disebabkan oleh pemilihan presiden terbaru. Namun, peserta pasar menjadi bingung setelah pengajuan Fed untuk memperluas paket stimulus perekonomian. Oleh karena itu, Perbendaharaan AS naik ditengah antisipasi volume likuiditas yang mengesankan. Regulator berencana untuk membeli obligasi Treasury senilai $12.82 miliar. Menurut analis, ini memiliki dampak yang sangat negatif pada pergerakan greenback lebih lanjut.

Menurut laporan terbaru, euro yang merupakan rival utama greenback telah melampauinya. Dengan demikian, data dari SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunications) menunjukkan bahwa saham dari euro yang digunakan dalam pembayaran global meningkat secara dramatis selama tujuh tahun terakhir. Bulan lalu, sekeitar 37,82% dari transfer keuangan di dunia dihasilkan dari euro. Selama periode pelaporan, saham dolar AS dalam pembayaran internasional tidak melampaui 37,64%. Satu tahun sebelumnya, para ahli menekankan itu senilai 42%.

Namun, mata uang tunggal bukanlah satu-satunya rival dolar. Terdapat beberapa mata uang yang akan menggantikan mata uang utama. Para ahli mempertimbangkan bahwa mata uang negara yang berpartisipasi dalam perkembangan inovasi dan telah menambahkan nilai tinggi dapat menjadi alternatif terhadap greenback. Yang paling stabil diantara mereka, sebagai tambahan dari euro, adalah franc Swiss, yen, dan yuan. Tahun ini, mata uang China memenangkan telapak tangan di tiga besar ini. Pertumbuhannya difasilitasi oleh pemulihan aktif ekonomi China setelah krisis virus corona.

Meskipun terdapat kelemahan jangka panjang dari greenback, analis mendesak untuk tidak panik dan tidak "mengubur" mata uang utama. Para ahlli mengingatkan bahwa dolar masih menjadi mata uang yang paling kuat. Selain itu, sekitar 80% dari seluruh transaksi pada perdagangan global dihasilkan dalam dolar. Situasi ini akan berlanjut dalam beberapa dekade, dan pergantuan dari greenback kemungkinan akan bertahap. Namun, greenback akan sulit meninggalkan arena keuangan global selamanya. Diperkirakan akan membagi kekuatannya dengan mata uang lain, terutama dengan euro.

*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading
Buka daftar artikel Buka artikel penulis ini Buka akun trading