
Goldman Sachs menyebut emas sebagai "diversifikasi portofolio yang lebih berguna" dan mengatakan akan mengungguli Bitcoin dalam jangka panjang. Mereka menjelaskan bahwa permintaan riil untuk logam tidak terpengaruh oleh pengetatan kondisi keuangan seperti mata uang kripto terbesar di dunia, belum lagi memiliki penggunaan non-spekulatif yang jelas tidak seperti Bitcoin, yang dipandang trader sebagai saham untuk perusahaan teknologi yang berkembang pesat. Emas juga digunakan sebagai lindung nilai terhadap devaluasi dolar dan inflasi.
Tentu saja, Bitcoin masih dapat digunakan sebagai lindung nilai, terutama karena potensinya berasal dari kasus penggunaan di masa depan. Akan tetapi, ini membuatnya jauh lebih fluktuatif dan spekulatif dibandingkan dengan emas. Selain itu, bitcoin juga naik ketika investor menjadi tertarik ada mata uang terdesentralisasi, namum, kondisi keuangan yang lebih ketat tidak akan bekerja mendukung mata uang kripto. Volatilitas Bitcoin yang menurun juga telah didorong oleh kekhawatiran sistemik karena beberapa pemain utama telah menyatakan kebangkrutan.
Data terbaru menunjukkan bahwa emas spot naik 0,23% y/y, sementara Bitcoin turun 63%.
Ke depannya, emas kemungkinan akan mendapatkan dorongan dari volatilitas ekonomi makro tambahan. Emas bisa mendapatkan manfaat dari volatilitas ekonomi makro yang lebih tinggi secara struktural dan kebutuhan untuk mendiversifikasi investasi ekuitasnya. Likuiditas yang ketat juga seharusnya tidak terlalu berdampak pada emas, yang lebih terpapar pada pendorong nyata seperti permintaan. Ini termasuk permintaan fisik, pembelian bank sentral (yang telah tercatat tahun ini), investasi dalam aset safe-haven dan aplikasi industri.
