Bank sentral penerbit mata uang G10 tampaknya berkonspirasi dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps, tetapi mata rantai terlemah adalah BoE. Pernyataan Andrew Bailey bahwa inflasi di Inggris telah mencapai puncaknya dan dua anggota MPC yang memilih untuk mempertahankan biaya pinjaman pada level yang sama memicu rally harian EURGBP terbaik kedua tahun ini. Sterling melemah terhadap dolar AS sebesar 1,5%, dan terhadap franc Swiss sebesar 1%.
Dinamika Suku Bunga Bank Sentral

Meskipun pada bulan November harga konsumen turun dari 11,1% menjadi 10,7%, masih terlalu dini untuk membahas kemenangan atas inflasi. Meskipun kepala bank sentral berusaha dengan segala cara untuk memperhalus frasa tentang puncak CPI dengan pernyataan terkait stabilitas tekanan inflasi dan langkah-langkah tegas selanjutnya untuk memperketat kebijakan moneter, ia gagal. Pasar berjangka menurunkan prakiraan plafon repo rate menjadi 4,52% pada bulan Agustus, imbal hasil obligasi Inggris turun, dan harga GBPUSD ambruk.
Sementara Fed dan ECB mengisyaratkan kesiapan menaikkan suku bunga lebih tinggi dari yang diperkirakan investor, Bank of England, sebaliknya, tidak meyakinkan bahwa mereka dapat mencapai puncak yang diprediksi pasar derivatif. Haruskah kita terkejut dengan melemahnya pound? Credit Agricole menyatakan GBPUSD dapat melanjutkan pullback lebih rendah karena investor menyesuaikan ekspektasi biaya pinjaman BoE mereka untuk tahun 2023.
Dinamika ekspektasi repo rate

Sebagai perbandingan, ECB telah memperjelas bahwa mereka akan menaikkan suku bunga deposito sebesar 50 bpssebanyak satu kali atau lebih di masa mendatang, yang menyebabkan derivatif menaikkan prakiraan plafonnya menjadi 3,7%. The Fed, dalam prakiraannya, secara terbuka menyatakan bahwa biaya pinjaman kemungkinan akan naik menjadi 5,25%. Perbedaab suku bunga moneter mendorong naik kuotasi EURGBP dan menurunkan pasangan GBPUSD. Anehnya, ekonomi Inggris dan zona euro dianggap lemah, tetapi data terbaru menandakan ketahanan yang lebih kuat daripada prakiraan sebelumnya. ECB menggunakan ini untuk mendukung euro, BoE mengabaikannya, menenggelamkan pound.

Faktor tambahan melemahnya sterling terhadap dolar AS adalah bagian dari statistik Amerika Serikat yang mengecewakan, termasuk penjualan ritel, produksi industri, dan kegiatan usaha. Pasar melihat momok resesi dalam kasus ini, mulai menjual aset berisiko dan membeli aset safe haven, yang mempercepat mundurnya GBPUSD. Selama selera risiko global terus turun, dan Bank of England tidak mulai menyesali kesalahannya atas puncak inflasi, pasangan ini akan terus berada dalam tekanan.
Secara teknis, di chart harian, GBPUSD dengan jelas telah menyusun strategi pembelian pasangan ini dari 1.2325, disusul reversal dan pembentukan posisi short saat rebound dari pivot point di 1.2425. Ketidakmampuan "bear" melampaui support di 1.2065–1.2075 menjadi alasan untuk melakukan profit taking. Sebaliknya, suksesnya serangan akan memungkinkan meningkatnya posisi short ke arah 1.198 dan 1.184.
