Indeks saham AS telah mengalami gejolak tajam selama beberapa hari terakhir. S&P 500 sempat menguat setelah muncul laporan bahwa negara-negara anggota IEA akan melepaskan 400 juta barel dari cadangan strategis. Menurut Donald Trump, langkah itu akan secara signifikan menurunkan harga minyak. Presiden kembali menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah akan segera berakhir dan pihak lawan akan menyerah. Namun pasar tidak lagi berfokus pada hasil konfrontasi AS–Israel–Iran. Mereka kini lebih memperhatikan soal jangka waktunya.
Dinamika saham AS

Dow Jones berakhir di titik terendahnya sepanjang tahun ini. Kekhawatiran yang dirasakan para investor mengenai konsekuensi konflik terhadap ekonomi Amerika Serikat semakin meningkat. Meskipun ada sedikit ketenangan karena inflasi harga konsumen yang stabil di angka 2,4% dan inflasi inti di 2,5% pada bulan Februari. Secara teori, dengan kondisi pasar kerja yang mulai melambat, seharusnya ini memberikan peluang bagi The Fed untuk memulai kembali siklus pelonggaran.
Namun, pasar derivatif malah mengurangi kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed dua kali masing-masing sebesar 25 bps pada 2026 dari 51% menjadi 40%. Data inflasi terbaru tidak berhasil menarik perhatian investor. CPI hampir dipastikan akan naik pada bulan Maret seiring dengan kenaikan harga energi. Di samping itu, indikator inflasi yang lebih disukai oleh The Fed, yaitu indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), berpotensi mengalami percepatan. Indeks ini meningkat lebih cepat daripada headline CPI, yang merupakan perkembangan yang jarang terjadi.
Dinamika PCE vs CPI

Pasar meragukan daya tahan ekonomi Amerika Serikat—dan situasi ini bahkan lebih parah di tempat lain. Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu Eropa dan Jepang, yang sangat tergantung pada energi dari wilayah tersebut. Oleh karena itu, strategi "menjual Amerika" yang diterapkan Donald Trump pada April 2025 kini mengalami perubahan arah. Indeks saham di AS menunjukkan hasil yang lebih buruk dibandingkan dengan rekan-rekannya di seluruh dunia.
Para pelaku pasar menyadari bahwa Amerika Serikat adalah pusat inovasi, dan pasar di negara ini dikenal sebagai yang terbesar serta paling likuid. Di samping itu, Trump telah menghentikan kritik terhadap The Fed, dan keputusan dari Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa tarif tersebut ilegal menunjukkan bahwa sistem demokrasi di AS masih berjalan dengan baik. Penurunan ketidakpastian politik dan situasi geopolitik saat ini telah membuka jalan bagi strategi perdagangan "jual Asia dan Eropa, beli Amerika. "

Akibatnya, bahkan di tengah kenaikan harga minyak dan meningkatnya risiko stagflasi di AS, S&P 500 tidak tergesa-gesa memasuki fase koreksi dalam tren naiknya. Pihak bullish belum siap menyerah. Selama aliran dana dari luar negeri terus mengalir, sentimen tetap terjaga.
Secara teknikal, pada grafik harian, pihak bearish mencoba memanfaatkan pola pembalikan pin-bar. Namun, pertarungan dengan pihak bullish masih berpusat di level pivot 6.770. Penurunan di bawah level support tersebut akan menjadi pemicu untuk menjual. Sebaliknya, penutupan indeks utama di atas level pivot itu akan menjadi sinyal untuk membangun posisi long.
