logo

FX.co ★ USD/JPY: Bermain dengan Api—Level 160,00 Bisa Menjadi Perangkap bagi Pembeli

USD/JPY: Bermain dengan Api—Level 160,00 Bisa Menjadi Perangkap bagi Pembeli

Pekan perdagangan saat ini dimulai dengan penguatan umum dolar AS di tengah lonjakan sentimen anti-risiko. Para trader bereaksi terhadap gagalnya negosiasi antara AS dan Iran, yang tidak menghasilkan kesepakatan apa pun.

Terlepas dari saling tuding dan ancaman Trump untuk memblokir Selat Hormuz, hampir semua pasangan mata uang utama berhasil menetralkan penguatan tajam dolar sepanjang hari. Mungkin satu-satunya pengecualian adalah pasangan USD/JPY, yang tidak hanya mempertahankan gap-nya, tetapi juga mencetak level tertinggi lokal baru di 159,87.

USD/JPY: Bermain dengan Api—Level 160,00 Bisa Menjadi Perangkap bagi Pembeli

Yen merespons dengan cepat terhadap peningkatan harga minyak. Pernyataan Trump mengenai kemungkinan pemblokiran Selat Hormuz menyebabkan lonjakan besar pada harga minyak mentah—Brent kini diperdagangkan sekitar $102 per barel. Sebagai salah satu negara yang paling banyak mengimpor sumber energi, Jepang sangat peka terhadap fluktuasi harga minyak, sehingga para pelaku pasar USD/JPY mengalami kesulitan untuk menemukan titik keseimbangan. Selain itu, semakin lebar selisih imbal hasil juga memberikan tekanan tambahan pada yen Jepang terhadap dolar AS.

Meskipun saat ini ada "dominan" pembeli USD/JPY, ada baiknya mempertimbangkan posisi jual karena dua alasan utama: pertama, adanya kemungkinan "risiko" dimulainya kembali pembicaraan antara AS dan Iran, dan kedua, risiko intervensi nilai tukar (atau pernyataan resmi yang menyertainya dari pihak Jepang).

Mari kita mulai dengan faktor-faktor geopolitik. Menurut sumber-sumber terkemuka yang dipetik oleh media Amerika Axios, komentar tajam Trump mengenai pemblokiran Selat Hormuz dan kegagalan negosiasi di Islamabad adalah bagian dari proses negosiasi yang sedang berlangsung. Para insider berpendapat bahwa "semua pihak masih berharap bahwa perjanjian itu mungkin. " Oleh karena itu, para mediator dari negara-negara regional (seperti Pakistan, Mesir, dan Turki) serta perwakilan dari beberapa negara Timur Tengah (Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab) sedang bekerja keras untuk mendorong AS dan Iran kembali ke meja negosiasi, dengan tujuan menjembatani perbedaan dan mencapai kesepakatan gencatan senjata. Axios melaporkan bahwa berkurangnya perbedaan posisi yang ada bisa memberikan kesempatan untuk satu putaran negosiasi sebelum akhir gencatan senjata selama dua minggu, yaitu sebelum 21 April. Jika Trump, setelah mengeluarkan ancaman "blokade total dan mutlak", mulai membahas kembali negosiasi, dolar sebagai aset safe haven mungkin akan menghadapi tekanan lebih lanjut—kali ini terhadap yen.

Semua ini menunjukkan bahwa kenaikan pasangan USD/JPY dibangun di atas fondasi yang cukup rapuh. Selain itu, semakin mendekati target 160. 00, semakin tinggi risiko intervensi dari pihak Jepang—terutama intervensi nilai tukar. Tingkat harga ini dikenal sebagai resistensi psikologis yang kuat, semacam "garis merah" bagi Kementerian Keuangan Jepang.

Jangan lupa bahwa situasi serupa terjadi di akhir Maret ketika pasangan USD/JPY berada di atas level 160. 00. Hanya satu hari setelahnya, Wakil Menteri Keuangan Mimura mengungkapkan keprihatinan tentang meningkatnya aktivitas spekulatif, dan menyatakan bahwa jika tren ini berlanjut (yakni jika yen terus melemah), "kebutuhan objektif untuk mengambil tindakan tegas" akan muncul. Pasar mengartikan pernyataan ini dengan jelas—sebagai sinyal kemungkinan adanya intervensi nilai tukar. Dalam waktu tiga hari, pasangan ini turun lebih dari 200 poin—dari 160. 47 menjadi 158. 29.

Ini bukanlah satu-satunya contoh; pada tahun 2024, target 160. 00 juga telah memicu intervensi pemerintah. Sejak saat itu, setiap kali harga mendekati level tersebut selalu menimbulkan risiko. Jika pasangan ini menembus level 160. 00 dan dapat bertahan di sana, kemungkinan besar Bank of Japan, mengikuti instruksi Kementerian Keuangan, akan mulai menjual dolar dari cadangannya, dengan probabilitas sekitar 70%-80%. Oleh sebab itu, para pembeli USD/JPY menghindari mendekati level 160.

Dengan demikian, kondisi pasangan ini sangat bertentangan. Faktor-faktor geopolitik memberikan tekanan dari bawah, sementara risiko intervensi memberikan tekanan dari atas. Akibatnya, pelaku pasar belum menutup celah kenaikan maupun menciptakan pergerakan naik yang baru. Para trader terjebak dalam situasi yang sulit, terkurung dalam rentang harga sekitar 40 poin antara 159. 50 hingga 159. 90.

Gerakan arah akan ditentukan oleh tindakan yang diambil oleh Amerika Serikat terhadap Iran. Jika, tidak seperti ancaman yang telah disampaikan, Trump "mengubah kemarahan menjadi kebaikan" dan melanjutkan dialog dengan Teheran, pasangan USD/JPY mungkin akan menutup celah di bagian atas dan kembali ke rentang 158. Namun, jika presiden AS memilih untuk menepati ancamannya (terutama yang berkaitan dengan blokade laut di Selat Hormuz), pasangan ini akan berpotensi melewati "garis berbahaya" dan mencapai rentang 160. Dalam situasi ini, pasar akan kembali menghadapi kemungkinan reaksi dari pengawas Jepang.

Oleh sebab itu, posisi beli pada pasangan ini memiliki risiko dalam situasi apa pun—baik saat ketegangan meningkat maupun mereda. Pertanyaannya hanyalah kapan waktu yang tepat untuk melakukan penjualan: dari level yang sekarang atau mendekati angka 160. Menurut pendapat saya, pilihan kedua terlihat lebih terpercaya, karena level tersebut biasanya memicu respons dari pihak berwenang Jepang. Target penurunan USD/JPY yang paling dekat berada di 159. 20 (garis tengah Bollinger Bands di timeframe D1).

*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading
Buka daftar artikel Buka artikel penulis ini Buka akun trading