Pasar kini begitu yakin bahwa konflik di Timur Tengah tengah mereda sehingga mereka mengabaikan pelanggaran berkala terhadap gencatan senjata. Iran melancarkan serangan ke Uni Emirat Arab, sementara Israel menargetkan Lebanon dan menyingkirkan salah satu komandan Hezbollah. Namun, investor memandang negosiasi antara Washington dan Teheran sebagai skenario dasar yang akan berujung pada perdamaian di kawasan tersebut. Indeks saham AS kembali mencetak rekor tertinggi, harga minyak turun, dan EUR/USD menguat.
Konflik geopolitik umumnya bersifat sementara. Oleh karena itu, logika bagi investor cukup sederhana: apa yang naik di awal konfrontasi semestinya turun ketika konflik mereda. Alhasil, minyak, yang sebelumnya berkinerja sangat baik, kini memasuki gelombang aksi jual, sementara emas, yang sebelumnya dianggap berkinerja buruk, tampak undervalued dan semakin diminati. Dolar AS yang dulu kuat mulai kehilangan daya tarik pada bulan Mei. Sebaliknya, euro justru menarik semakin banyak peminat.
Dinamika Ekspektasi Inflasi AS

EUR/USD mengalami peningkatan yang signifikan, didorong oleh penurunan harga minyak yang telah meredakan kekhawatiran inflasi di Amerika Serikat. Investor mulai meyakini bahwa kenaikan harga di AS hanyalah halangan sementara. Apabila pasar tenaga kerja menunjukkan gejala melemah pada bulan April, Federal Reserve bisa jadi akan mempertimbangkan kembali untuk melanjutkan kebijakan ekspansi moneter, terutama di bawah kepemimpinan Ketua baru, Kevin Warsh.
Situasi ini mengecewakan pendukung dolar dan memberikan kebahagiaan bagi yang menentangnya. Oleh karena itu, tidak mengejutkan jika EUR/USD terus meningkat.
Namun, saat ini konflik geopolitik berlangsung lebih lama. Selain itu, perbaikan infrastruktur yang hancur di negara-negara Teluk Persia akan memakan waktu cukup lama. Harga minyak yang tetap tinggi mungkin akan bertahan, dan ini dapat berdampak besar pada permintaan global dan perekonomian dunia. Negara-negara yang paling dirugikan tampaknya adalah pengimpor bersih sumber energi, seperti Zona Euro dan Jepang. Meski begitu, baik euro maupun yen justru mengalami penguatan. Apakah ini sesuatu yang aneh?
Tidak! Ini berkaitan dengan momentum. Pasar saat ini berada dalam fase fluktuasi yang tajam, sambil mempercayai bahwa keadaan akan kembali normal. Di sisi EUR/USD, ekspektasi pasar mengenai dua kali pengetatan moneter dari ECB, dengan kemungkinan pengetatan ketiga, juga berperan. Jika inflasi yang tinggi hanya bersifat temporer, jelas European Central Bank tidak akan bereaksi dengan pengetatan kebijakan moneter yang agresif. Jika mereka melakukan langkah apapun. Penyesuaian dalam ekspektasi pasar bisa menjadi kejutan yang tidak menyenangkan bagi euro.

Untuk saat ini, ketika euforia menguasai pasar, pasangan mata uang utama ini merasa seperti ikan di air. Kita akan lihat berapa lama pesta di Bull Street ini bertahan.
Secara teknikal, pada grafik harian, EUR/USD sedang menguji batas atas dari kisaran nilai wajarnya di 1,1675–1,1775. Jika pembeli berhasil menembusnya, akan muncul peluang untuk membentuk posisi beli jangka panjang. Sebaliknya, pantulan dari level resistance penting ini akan menjadi alasan untuk menjual euro.
