
Pasangan GBP/USD berbalik menguat terhadap dolar AS tadi malam dan turun sekitar 220 poin dalam waktu kurang dari satu hari penuh. Tidak mengherankan, sebagian besar penurunan ini terjadi pada Rabu malam ketika FOMC dan Kevin Warsh mengumumkan hasil pertemuan bulan Juni. Singkatnya, pasar tidak menduga The Fed akan memberi sinyal kesiapan untuk melakukan pengetatan moneter yang relatif agresif. Menurut saya, situasinya sudah bisa berubah pada pertemuan bulan Juli jika inflasi di Amerika Serikat mulai melambat seiring turunnya harga energi. Namun, jika inflasi tetap berada di kisaran 4% (2 poin persentase di atas target), The Fed kemungkinan besar harus mengetatkan kebijakan, dan kecil kemungkinan regulator akan berhenti hanya setelah satu kali kenaikan suku bunga. Pasar sudah mempertimbangkan kemungkinan tersebut, tetapi tidak siap ketika FOMC dan Kevin Warsh menunjukkan komitmen sekuat itu untuk mengembalikan inflasi ke target dengan segala cara.
Bagaimanapun juga, pertemuan Bank of England dan Federal Reserve menghidupkan kembali pasar yang sebelumnya relatif lesu hingga Rabu malam. Menurut saya, pasar hanya bereaksi terhadap pertemuan The Fed, karena Bank of England belakangan ini tidak memberi sinyal perlunya kenaikan suku bunga dan inflasi Inggris dalam beberapa bulan terakhir cenderung stabil. Karena itu, pasar tidak punya banyak alasan untuk mengharapkan nada hawkish dari Andrew Bailey dan rekan-rekannya. Oleh karena itu, saya tidak melihat penurunan pound pada hari Kamis sebagai sesuatu yang terkait dengan pertemuan Bank of England. Perlu juga dicatat bahwa pasar sebagian besar mengabaikan perkembangan geopolitik. Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman, dan banyak pakar menilai kesepakatan itu tidak menguntungkan Washington. Namun, menilai keberhasilan kesepakatan Donald Trump bukanlah tugas saya. Saya hanya menyatakan fakta: berakhirnya konflik di Timur Tengah tidak membuat pelaku jual (bear) mundur dari pasar.
Dolar AS biasanya berkinerja lebih baik dibanding euro dan pound pada periode ketidakpastian geopolitik. Oleh karena itu, baik euro maupun pound masih berpeluang mendapatkan dukungan jika selera risiko kembali membaik. Saat ini, pasar masih berhati-hati terhadap kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat dan menunggu pembukaan kembali penuh Selat Hormuz, yang pada dirinya sendiri bukan tugas yang mudah. Meski demikian, kini dapat dikatakan bahwa perang secara resmi telah berakhir, setidaknya untuk sementara. The Fed memicu reli kuat pada dolar AS, tetapi saya belum melihat faktor yang memungkinkan pelaku jual terus memperpanjang keunggulan mereka. Menurut saya, tren jangka panjang yang lebih luas masih bullish meskipun pasangan ini mencatat penurunan tajam tahun ini.
Dari sisi teknikal, gambaran saat ini adalah sebagai berikut. Semua pola yang tersedia dan valid telah selesai atau menjadi tidak lagi berlaku. Satu-satunya pola yang bisa saya identifikasi adalah bearish imbalance, yang belum terbentuk karena candle harian hari ini belum ditutup. Namun, besar kemungkinan pola tersebut akan muncul saat pembukaan candle harian berikutnya. Akibatnya, reaksi terhadap pola bearish yang baru ini bisa memberikan peluang bagi trader untuk membuka posisi jual. Saya juga ingin menyoroti kedekatan swing low 31 Maret, di mana likuiditas berpotensi diserap. Jika itu terjadi, pelaku beli (bull) mungkin melancarkan serangan balasan berdasarkan kombinasi faktor tersebut. Untuk saat ini, bagaimanapun, gambaran teknikal jangka pendek masih bearish.
Arus berita ekonomi pada hari Kamis nyaris tidak menarik perhatian pasar. Seperti telah disebutkan di atas, dua hari terakhir pasar hampir secara eksklusif bereaksi terhadap pertemuan The Fed. Hasil pertemuan Bank of England tidak bisa dibilang negatif untuk pound, dan laporan pengangguran Inggris yang dirilis lebih awal pada hari itu justru cukup positif. Pada bulan April, tingkat pengangguran turun dari 5,0% menjadi 4,9%, sementara pelaku pasar memperkirakan angkanya tetap di 5,0%. Namun, data ini, seperti halnya sebagian besar informasi ekonomi terbaru lainnya, sebagian besar diabaikan oleh pasar.
Latar belakang fundamental yang lebih luas masih mengindikasikan bahwa, dalam jangka panjang, saya memperkirakan pelemahan lanjutan dolar AS. Bahkan konflik antara Iran dan Amerika Serikat tidak mengubah pandangan ini. Potensi kenaikan suku bunga The Fed pun tidak mengubahnya. Ketegangan geopolitik sempat mengingatkan pasar akan status dolar sebagai aset safe haven, tetapi secara keseluruhan lingkungan yang ada masih kurang mendukung bagi mata uang AS tersebut. The Fed berniat menaikkan suku bunga pada 2026, yang pada dasarnya mendukung dolar. Namun, jangan lupa bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat juga akan memperlambat perekonomian AS. Saya juga meyakini bahwa pengetatan The Fed akan bersifat sementara, dimaksudkan untuk menurunkan inflasi lebih cepat, setelah itu bank sentral kemungkinan akan kembali ke siklus pelonggaran. Oleh karena itu, menurut saya, setiap penguatan dolar kemungkinan akan bersifat sementara.
Kalender Berita Amerika Serikat dan Inggris:
19 Juni: Tidak ada peristiwa penting dalam kalender ekonomi. Dengan demikian, dampak latar belakang ekonomi terhadap sentimen pasar pada hari Jumat diperkirakan akan minimal.
Prakiraan dan Rekomendasi Trading GBP/USD:
Prospek jangka panjang untuk pound tetap bullish, sementara seluruh pola bearish telah gugur atau tidak lagi relevan. Karena itu, trader sebaiknya menunggu terbentuknya pola-pola baru, karena pola tersebut akan memberikan sinyal yang lebih jelas mengenai arah pergerakan berikutnya. Bearish imbalance mungkin terbentuk paling cepat besok, yang bisa dijadikan dasar oleh para trader untuk mempertimbangkan posisi jual baru. Pada saat yang sama, kedekatan level rendah 1,3158 tetap menjadi faktor pendukung bagi pelaku beli, karena level tersebut bisa menjadi target likuiditas sebelum terjadi pembalikan bullish.
