
Pada hari Kamis, emas (XAU/USD) kembali bergerak dengan bias positif untuk hari kedua berturut-turut, meski masih berada dalam kisaran yang terbentuk pada sesi sebelumnya. Pelemahan moderat dolar AS, yang dipicu oleh data makroekonomi AS yang lebih lemah daripada prediksi pada hari Rabu, tetap menjadi faktor utama yang menopang logam mulia ini untuk hari kedua. Di saat yang sama, ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve (Fed) AS, bersama dengan berlanjutnya risiko geopolitik, terus mendukung dolar AS dan membatasi kenaikan emas menjelang rilis data pasar tenaga kerja AS.
Menurut laporan ADP (Automatic Data Processing), ketenagakerjaan sektor swasta AS meningkat sebesar 98.000 pada bulan Juni, lebih rendah dibandingkan revisi angka bulan sebelumnya (122.000) dan di bawah konsensus pasar sebesar 113.000. Selain itu, PMI Manufaktur ISM turun dari 54,0 menjadi 53,3 pada Juni. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayarkan turun dari 82,1 ke 73,0, sedangkan Indeks Ketenagakerjaan naik tipis dari 48,6 ke 49,7.
Tekanan tambahan terhadap dolar AS datang dari penurunan harga minyak baru-baru ini, yang secara signifikan menurunkan ekspektasi inflasi jangka pendek dan mendorong para pelaku pasar yang memegang posisi bullish dolar untuk bersikap lebih hati-hati. Hal ini pada akhirnya memberikan dukungan tambahan bagi emas.
Kendati demikian, FedWatch Tool milik CME Group menunjukkan bahwa pelaku pasar masih memperkirakan sekitar 64% kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan September dan hampir 85% peluang pengetatan kebijakan tambahan sebelum akhir tahun. Kepercayaan para investor menguat setelah muncul komentar dari pejabat Federal Reserve Kevin Warsh, yang menegaskan kembali komitmen Fed terhadap target inflasi 2% dan kesediaannya untuk mempertahankan sikap kebijakan restriktif meski ada tekanan politik untuk menurunkan suku bunga. Selain itu, sejumlah pejabat Fed menyatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mencapai target inflasi.
Secara keseluruhan, faktor-faktor tersebut membatasi penurunan dolar AS sekaligus menahan kenaikan emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding). Pada saat yang sama, ketegangan geopolitik tetap tinggi. Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Qatar berakhir tanpa kemajuan berarti, sementara situasi di Selat Hormuz masih tidak stabil.
Dengan latar belakang ini, risiko geopolitik terus mendukung permintaan terhadap dolar AS, sementara para investor tetap fokus pada rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS mendatang. Data ini akan krusial untuk menilai langkah kebijakan Fed berikutnya dan berpotensi menentukan arah jangka pendek bagi dolar AS maupun emas.
Dari perspektif teknikal, penguatan yang didorong oleh short-covering menghadapi hambatan di Simple Moving Average (SMA) periode 50, sehingga mempertahankan bias bearish dalam jangka pendek. Dilihat dari indikator osilator, MACD telah berbalik naik ke wilayah positif, sementara RSI juga bergerak ke area positif.
Resistance terdekat berada di $4.122,14, diikuti oleh SMA periode 100 di $4.145,00. Di sisi lain, support awal terlihat di $4.050, level yang sudah sempat diuji. Penurunan lanjutan dapat membuka jalan menuju SMA periode 20 dan berpotensi memicu pengujian kembali level terendah struktural di sekitar $3.940.
