Hari Selasa menandai dimulainya pertemuan dua hari US Federal Reserve, dengan hasil yang akan diumumkan pada hari Rabu, 29 Juli. Jika berbicara mengenai hasil formal, tidak ada hal yang mengejutkan di sini: sebagian besar analis yakin bahwa bank sentral akan mempertahankan seluruh parameter kebijakan moneternya tanpa perubahan. Inilah skenario dasar dan yang paling diantisipasi, yang sudah tercermin dalam harga saat ini. Karena itu, seluruh perhatian akan tertuju pada pernyataan pendamping The Fed dan konferensi pers berikutnya yang akan dipimpin oleh Kevin Warsh. Di sinilah, memprediksi nada sinyal-sinyal yang disampaikan menjadi jauh lebih menantang mengingat latar belakang fundamental saat ini.
Pertemuan bulan Juli berlangsung di tengah kombinasi faktor fundamental yang cukup kompleks. Di satu sisi, laporan makroekonomi terbaru membuka ruang bagi retorika yang lebih lunak: tekanan inflasi di AS secara bertahap mereda, pasar tenaga kerja kehilangan momentum, dan pertumbuhan ekonomi melambat dibandingkan laju tinggi tahun lalu. Di sisi lain, lonjakan baru ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkatkan risiko terjadinya guncangan energi (dan, sebagai konsekuensinya, menguatnya kembali tekanan inflasi).
Dengan demikian, inti utama dari pertemuan bulan Juli tidak terlalu terletak pada keputusan suku bunga itu sendiri, melainkan pada pertanyaan risiko mana yang saat ini dianggap lebih signifikan oleh bank sentral: bertahannya tekanan inflasi atau mendinginnya perekonomian AS.

Penting untuk dicatat bahwa eskalasi terbaru di Timur Tengah secara signifikan telah memperkuat ekspektasi hawkish pasar terkait langkah lanjutan The Fed, termasuk dalam konteks pertemuan saat ini. Jika segera setelah publikasi data Nonfarm Payrolls bulan Juni probabilitas kenaikan suku bunga bulan ini hanya dinilai sebesar 8–9%, maka pada hari Selasa probabilitas tersebut telah mendekati 40% (menurut data CME FedWatch tool).
Menurut saya, ekspektasi hawkish pasar tersebut berlebihan. Ini berarti bahwa jika The Fed mempertahankan parameter kebijakan moneter tanpa perubahan dan menahan diri dari penyampaian sinyal hawkish yang "jelas", dolar akan berada di bawah tekanan yang signifikan.
Dan jika melihat kondisi makroekonomi saat ini, skenario ini cukup mungkin terjadi.
Indeks Harga Konsumen (CPI) keseluruhan pada Juni turun menjadi -0,4% bulan ke bulan, penurunan bulanan paling tajam sejak krisis virus korona (tepatnya sejak April 2020). Laju tahunan pada Juni juga melambat secara signifikan, dari 4,2% menjadi 3,5%. Dinamika ini didorong oleh penurunan harga bahan bakar (-9,7% bulan ke bulan) dan stabilisasi harga Brent di kisaran sekitar $72–75 per barel.
Pada saat yang sama, core CPI juga mencerminkan perlambatan inflasi: indeks inti tersebut mencatat hasil nol (0,0%) bulan ke bulan dan turun menjadi 2,6% tahun ke tahun.
Inflasi di sisi manufaktur juga menunjukkan tren menurun. Indeks Harga Produsen (PPI) keseluruhan turun menjadi -0,3% bulan ke bulan (setelah kenaikan 0,6% pada bulan sebelumnya) dan melambat ke 5,5% tahun ke tahun. Pendorong utama penurunan ini adalah turunnya biaya energi dan bahan bakar. Sementara itu, PPI inti hanya naik 0,2% bulan ke bulan, yang menandakan tidak adanya guncangan harga sekunder dari bahan baku.
Ini merupakan sinyal penting, karena dinamika harga produsen merupakan salah satu indikator utama bagi perkembangan inflasi konsumen di masa depan.
Namun, meskipun inflasi sejauh ini belum memungkinkan The Fed untuk secara substansial melunakkan retorikanya (karena indikator utama masih jauh dari target), pasar tenaga kerja AS belakangan ini menjadi faktor yang mendukung kubu "dovish".
Perlu diingat bahwa laporan Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Juni jauh lebih lemah daripada perkiraan. Secara khusus, jumlah pekerjaan baru di sektor non-pertanian hanya meningkat 57.000 (dibandingkan perkiraan +110.000), sementara revisi ke bawah kumulatif untuk dua bulan sebelumnya (April dan Mei) mencapai -74.000.
Tingkat pengangguran pada Juni secara formal memang turun (dari 4,3% menjadi 4,2%), tetapi dinamika ini bukan disebabkan membaiknya kondisi pasar tenaga kerja, melainkan penurunan jumlah penduduk yang secara ekonomi aktif. Tingkat partisipasi angkatan kerja turun ke 65,5%, dan porsi penduduk usia kerja yang terlibat dalam angkatan kerja turun menjadi 83,3% (dari 83,9%). Dengan kata lain, penurunan angka "headline" hanya terjadi karena banyak warga Amerika berhenti secara aktif mencari pekerjaan dan dengan demikian keluar dari angkatan kerja. Jika tingkat partisipasi tetap berada di level bulan Mei, angka pengangguran secara statistik akan naik ke 4,4%–4,5%.
Singkatnya, laporan NFP bulan Juni tidak mendukung sikap hawkish dari The Fed.
Namun, ketika menilai arah kebijakan moneter ke depan, The Fed tidak hanya akan mempertimbangkan indikator makroekonomi domestik, tetapi juga konteks geopolitik. Lebih jauh lagi, The Fed akan menilai faktor Timur Tengah tidak hanya melalui kacamata eskalasi pada Juli, tetapi juga dengan mempertimbangkan sinyal-sinyal diplomatik terbaru. Memang, gelombang ketegangan yang baru telah kembali mengingatkan pasar pada risiko guncangan energi dan potensi dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan moneter. Namun, berakhirnya serangan timbal balik antara AS dan Iran baru-baru ini, beserta tanda-tanda kembalinya proses negosiasi, mengurangi kemungkinan terjadinya impuls inflasi jangka panjang dari minyak. Jika pada musim semi harga Brent sempat naik ke $110–120 per barel, kini kuotasi bergerak di kisaran $83–85 (setelah sempat menyentuh level $100 secara singkat).
Oleh karena itu, bank sentral kemungkinan akan mengambil posisi berhati-hati: di satu sisi, mengakui masih adanya risiko geopolitik dan inflasi, namun di sisi lain tidak akan membangun skenario pengetatan kebijakan moneter hanya berdasarkan faktor-faktor tersebut. Dengan kata lain, The Fed kecil kemungkinan akan memberi sinyal kenaikan suku bunga atau mengisyaratkan bahwa skenario tersebut menjadi prioritas.
Mengingat tingginya ekspektasi hawkish di pasar (perlu dicatat bahwa probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli saat ini diperkirakan mendekati 40%), sikap berhati-hati seperti ini akan memberikan tekanan yang cukup besar pada dolar di seluruh pasar.
Posisi beli pada pasangan EUR/USD sebaiknya hanya dipertimbangkan ketika pembeli mampu menembus level support 1,1410 (garis tengah Bollinger Bands pada D1, yang bertepatan dengan garis Tenkan-sen dan Kijun-sen) dan mengukuhkan posisi di atasnya. Dalam hal ini, target berikutnya untuk pergerakan naik akan berada di level 1,1470, yang bertepatan dengan garis atas Bollinger Bands pada time frame yang sama.
