
Emas (XAU/USD) kesulitan menarik minat beli yang kuat dan terus diperdagangkan di bawah level $4.100, karena para pelaku pasar memilih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait situasi di Timur Tengah. Ketidakpastian seputar potensi negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran terus mendukung dolar AS sebagai aset safe haven, yang pada akhirnya membatasi potensi kenaikan untuk logam mulia tersebut.

Selain itu, pemulihan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve, sehingga menciptakan hambatan tambahan bagi emas.
Pada hari Senin, Iran membantah laporan mengenai adanya negosiasi dengan Amerika Serikat, yang memicu kemarahan Presiden Donald Trump. Sebelumnya, pada akhir pekan, ia menyebut dimulainya kembali perundingan bilateral sebagai alasan untuk membatalkan serangan militer yang telah direncanakan.
Selain itu, laporan menunjukkan bahwa Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) melancarkan serangan drone terhadap pangkalan militer AS di Kuwait. Hal ini semakin mengurangi harapan akan penyelesaian diplomatik untuk konflik yang sudah berlangsung selama lima bulan dan mendorong para pelaku pasar untuk memasukkan risiko geopolitik ke dalam proyeksi mereka, sehingga memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai mata uang safe haven.
Sementara itu, Mohsen Rezaee, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, menolak klaim Presiden Trump bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka. Ia juga memperingatkan bahwa Iran tidak akan mengizinkan lalu lintas maritim tanpa otorisasi melalui jalur air yang sangat strategis ini dan mengancam akan menyerang kapal-kapal angkatan laut AS. Ketegangan semakin meningkat akibat blokade maritim yang diberlakukan terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi yang didukung Iran, sehingga memicu kekhawatiran atas pasokan energi global dan membantu harga minyak pulih sebagian dari pelemahan terakhirnya.
Para investor tetap khawatir bahwa kenaikan harga minyak dapat kembali memicu tekanan inflasi dan memaksa Federal Reserve untuk mengambil sikap kebijakan yang lebih hawkish. Menurut CME Group FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini memperkirakan probabilitas lebih dari 60% untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan September dan lebih dari 85% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Ekspektasi ini diperkuat oleh data PMI Manufaktur ISM pada hari Senin, yang menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur AS pada bulan Juli mencapai level tertinggi dalam empat tahun, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi dolar AS.
Kendati demikian, para pelaku pasar kemungkinan memilih untuk menahan diri dari mengambil posisi agresif menjelang laporan ketenagakerjaan utama AS pada hari Jumat, yang lebih dikenal sebagai laporan Nonfarm Payrolls (NFP). Data ini akan berperan penting dalam membentuk ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve ke depan dan berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap arah jangka pendek dolar AS, sekaligus dapat menjadi pemicu momentum baru bagi harga emas. Namun, kondisi fundamental saat ini mengindikasikan bahwa jalur dengan hambatan paling kecil bagi emas masih cenderung mengarah turun.
Dari perspektif teknikal, XAU/USD masih berada di bawah tekanan ketika mencoba menembus Simple Moving Average (SMA) 20 hari. Namun, peluang untuk terbentuknya breakout yang berhasil tetap terbatas, karena indikator momentum terus memberikan sinyal negatif, mengonfirmasi bahwa penjual masih memegang kendali atas pasar. Level resistance terdekat berada di area psikologis $4.100, sementara support terdekat terlihat di $4.000. Secara keseluruhan, jalur dengan hambatan paling kecil masih mengarah ke sisi bawah.
