logo

FX.co ★ Pasar menunjukkan sikap tegar

Pasar menunjukkan sikap tegar

Tampilan luar pasar saham AS tampak sempurna. Indeks S&P 500 berada kurang dari 2% di bawah rekor tertingginya. Namun, di balik tampilan tersebut, strukturnya mulai goyah. Saham berkapitalisasi kecil, sektor perbankan, dan utilitas sedang terpuruk, dan sebagian besar segmen pasar telah turun setidaknya 5% dari puncaknya—bahkan ada yang anjlok lebih dari 15%.

Dinamika indeks acuan saham AS

Pasar menunjukkan sikap tegar

Aksi jual pada surat utang pemerintah memberikan tekanan terhadap pasar saham. Imbal hasil obligasi tenor sepuluh tahun telah naik menjadi 5,34%—level tertinggi sejak tahun 2002. Perusahaan teknologi yang merugi dan emiten dengan neraca keuangan yang lemah menjadi pihak yang terdampak paling parah. Kinerja saham-saham ini mulai tertinggal dari indeks pasar secara keseluruhan setelah langkah The Fed pada bulan September, yang merupakan kenaikan suku bunga pertama dalam tiga tahun terakhir.

Saham berkapitalisasi kecil rentan terhadap guncangan suku bunga akibat penggunaan leverage (utang). Data Bloomberg menunjukkan bahwa indeks Russell 2000 mencatatkan kinerja kuartalan terburuk kedua dibandingkan S&P 500 sejak tahun 1999, dengan selisih kinerja (underperformance) mencapai hampir 10 poin persentase. Indeks saham berkapitalisasi kecil ini telah turun 8,5% dari level tertingginya pada 14 Agustus dan kini berada di ambang koreksi. Indeks ini memiliki porsi lebih besar dari sektor keuangan dan industri—sektor-sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi—dan lebih dari sepertiga komponennya merupakan perusahaan "zombie" yang nyaris tidak mampu membayar kewajiban utangnya. Saham-saham semacam itu bereaksi terhadap kenaikan suku bunga layaknya rumput kering yang terkena percikan api.

Perbedaan kinerja Russell 2000 vs. S&P 500

Pasar menunjukkan sikap tegar

Para pejabat The Fed telah memberikan sentimen positif bagi pasar. Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson, menyatakan bahwa The Fed mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk menilai apakah langkah kebijakan tambahan diperlukan; pandangan ini sejalan dengan pendapat Presiden The Fed New York, John Williams, bahwa tidak ada urgensi untuk melakukan pengetatan lebih lanjut. Imbal hasil obligasi telah turun dari level tertingginya, dan indeks S&P 500 berhasil memulihkan kerugian yang sebelumnya dipicu oleh lonjakan harga komoditas industri.

Salah satu faktor pendukung bagi indeks pasar secara keseluruhan adalah kondisi pasar tenaga kerja AS yang tetap tangguh. Perusahaan-perusahaan mencatat jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) terendah untuk bulan September sejak tahun 2022, dan jumlah klaim awal tunjangan pengangguran turun ke level terendah sejak bulan Juli. Para ekonom memperkirakan bahwa penambahan lapangan kerja di luar sektor pertanian akan mencapai sekitar 90.000 dan tingkat pengangguran akan bertahan di kisaran 4,1%.

Lonjakan sektor kecerdasan buatan (AI) turut menopang kinerja S&P 500. Tallbacken Capital Advisors memandang terbatasnya jumlah saham penggerak pasar sebagai ciri khas tren bullish yang kuat, bukan sebagai kelemahan fatal; mereka memproyeksikan indeks akan mencapai level 8.500 pada akhir tahun, atau hampir 11% di atas level saat ini.

Pasar menunjukkan sikap tegar

Namun, AI juga merupakan risiko terbesar. Jika proyeksi laba sektor teknologi dipangkas, dampaknya akan merambat ke seluruh pasar layaknya retakan pada lapisan es. Faktor geopolitik, biaya modal yang tinggi, dan pemilihan umum paruh waktu AS secara historis kerap mengguncang pasar—lalu, sampai kapan S&P 500 bisa terus bertahan di zona positif?

Secara teknikal, grafik harian S&P 500 membentuk pola doji dengan ekor bawah panjang, yang mengindikasikan meredanya tekanan jual. Breakout ke atas level tertingginya di kisaran 7.685 akan menjadi alasan untuk mulai membuka posisi beli pada indeks luas tersebut.

*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading
Buka daftar artikel Buka artikel penulis ini Buka akun trading