logo

FX.co ★ EUR/USD – Analisis Smart Money: Euro Tetap Berada Tertekan

EUR/USD – Analisis Smart Money: Euro Tetap Berada Tertekan

EUR/USD – Analisis Smart Money: Euro Tetap Berada Tertekan

EUR/USD telah mengalami penurunan selama tujuh belas hari berturut-turut, terlepas dari beberapa jeda singkat. Selama periode ini, euro telah kehilangan 440 poin. Penurunan mata uang Eropa ini bermula sebulan yang lalu saat pasar bersiap untuk menghadapi kenaikan suku bunga FOMC. Sejak saat itu, pasar terus membeli dolar karena sikap kebijakan moneter hawkish The Fed—meskipun sikap ini sempat beberapa kali disanggah oleh para pejabat FOMC. Banyak pejabat The Fed secara terbuka menyatakan perlunya pengetatan moneter lebih lanjut, tetapi pada saat besramaan tidak memberikan panduan spesifik mengenai laju pengetatan tersebut. Dot plot terbaru mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga sebesar 0,25% kemungkinan besar akan kembali terjadi. Minggu ini, Presiden The Fed New York, John Williams, menyatakan bahwa Federal Reserve sebaiknya tidak terburu-buru melakukan pengetatan kebijakan lebih lanjut. Apakah nilai dolar sudah terlalu tinggi untuk mengantisipasi dua kali kenaikan suku bunga, terutama mengingat waktu pelaksanaan kenaikan kedua yang masih belum pasti? Saat ini, dolar menguat seolah-olah Federal Reserve telah beralih dari sikap yang sepenuhnya netral menjadi sangat hawkish, padahal pasar tidak memiliki alasan kuat untuk mengharapkan skenario semacam itu. Faktanya, pelonggaran moneter justru mungkin dimulai paling cepat pada tahun 2027, mengingat bahwa para pejabat The Fed sendiri telah menyatakan bahwa dampak tingginya harga minyak hanya akan berlangsung dalam jangka waktu terbatas. Hal yang sama berlaku untuk dampak tarif perdagangan yang diterapkan Donald Trump. Data hari ini patut mendapat perhatian khusus. Laporan Nonfarm Payrolls dan tingkat pengangguran tercatat jauh di bawah proyeksi maupun ekspektasi pasar, sehingga menyebabkan dolar turun sebesar 30 poin.

Saat ini, tidak ada yang mampu menghentikan penurunan nilai euro. Baik kebijakan ECB yang lebih ketat, data ekonomi positif dari Uni Eropa, data pasar tenaga kerja AS yang mengecewakan, maupun gambaran teknis serta pola bullish, semuanya terbukti tidak cukup. Dengan batalnya validitas imbalance 19, mata uang Eropa kini berpeluang besar untuk jatuh di bawah level psikologis $1,10. Imbalance 19 yang sebelumnya bersifat bullish telah berubah menjadi inverted imbalance yang bersifat bearish dan memicu sinyal jual. Kubu bull gagal memanfaatkan imbalance 19, gagal mempertahankan posisi di atas dua pergerakan naik, dan gagal mengambil keuntungan dari data pasar tenaga kerja AS yang mengecewakan. Tidak ada yang dapat menolong euro jika para trader terus membeli dolar.

Minggu lalu, FOMC mengisyaratkan kesiapannya untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneter, yang terbukti cukup untuk memperpanjang tren menurun secara luas. Bahkan setelah The Fed memperketat kebijakan moneter pada bulan September dan berpotensi kembali melakukannya pada bulan Oktober atau Desember, faktor apa lagi yang dapat mendorong trader untuk terus membeli mata uang AS tersebut? Dolar memang menunjukkan kinerja yang kuat dalam beberapa minggu terakhir, tetapi faktor apa saja yang menopangnya selama periode ini? Apakah hanya pengetatan moneter FOMC semata?

Secara keseluruhan, latar belakang fundamental tetap mendukung kubu bull. Meskipun The Fed telah mengambil sikap kebijakan moneter yang lebih hawkish, hal itu bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi nilai tukar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap berada di level tinggi, sehingga memberikan tekanan signifikan terhadap anggaran federal. Ekonomi AS melambat dalam beberapa kuartal terakhir, sementara data pasar tenaga kerja AS lebih sering mengecewakan daripada melampaui ekspektasi. Donald Trump kembali memicu sengketa perdagangan dan perselisihan lainnya dengan sejumlah negara pada tahun 2026. Pasar saham AS juga terus menimbulkan kekhawatiran terkait investasi dengan leverage tinggi pada perusahaan teknologi yang terlibat dalam pengembangan AI.

Gambaran teknikal saat ini menunjukkan bahwa momentum bearish masih bertahan. Saat ini tidak terdapat pola yang valid, baik itu pola bearish maupun bullish. Namun, minggu ini mungkin berakhir dengan terbentuknya imbalance bearish yang baru. Kubu bull saat ini tidak memiliki pola teknikal yang dapat diidentifikasi, bahkan secara teoretis sekalipun.

Kondisi ekonomi pada hari Jumat memberikan kesempatan bagi pihak bull untuk melancarkan serangan balik yang kuat. Tidak hanya laporan Nonfarm Payrolls dan tingkat pengangguran AS yang tercatat jauh lebih buruk daripada ekspektasi pasar, inflasi di kawasan euro juga meningkat melampaui prediksi. Ketiga laporan penting tersebut memberikan sentimen positif bagi mata uang Eropa. Namun, satu-satunya pencapaian pihak bull hanya kenaikan tipis pada nilai euro, yang bahkan tidak mampu menutupi penurunan pada hari sebelumnya.

Pihak bull masih memiliki berbagai alasan untuk melancarkan serangan pada tahun 2026. Secara struktural maupun global, kebijakan Trump—yang memicu penurunan signifikan nilai dolar pada tahun lalu—tidak mengalami perubahan. Saat ini, tidak ada faktor signifikan yang mendukung mata uang AS, terlepas dari sikap hawkish FOMC. Perkembangan geopolitik, yang sempat mendorong permintaan terhadap mata uang AS selama sebagian besar paruh pertama tahun 2026, kini tidak lagi memberikan dampak yang sama.

Kalender Ekonomi AS dan Uni Eropa:

  • Uni Eropa – Indeks Harga Produsen (09:00 UTC).
  • AS – PMI Jasa ISM (14:00 UTC).

Pada 5 Oktober, kalender ekonomi mencantumkan dua agenda, dan indeks ISM menjadi yang paling penting. Kondisi ekonomi ini akan memengaruhi sentimen pasar pada paruh kedua sesi perdagangan hari Senin.

Prediksi dan Rekomendasi Trading EUR/USD:

Pasangan mata uang ini masih dalam proses membentuk tren bullish yang sempat tertahan selama satu tahun penuh. Kondisi fundamental berubah drastis dan berpihak pada kubu bear tujuh bulan lalu, tetapi tren jangka panjang yang telah berlangsung selama empat tahun tidak dapat dianggap batal atau berakhir. Dalam jangka panjang, pergerakan pasangan mata uang ini dapat digambarkan sebagai pergerakan dalam rentang tertentu. Kondisi tersebut tidak membatalkan tren bullish jangka panjang yang lebih luas. Dengan demikian, kubu bull mungkin melanjutkan kenaikan pada tahun 2026, tetapi saat ini belum ada peluang nyata untuk hal tersebut. Kubu bear telah menerima sinyal jual baru dari imbalance level 19, dan imbalance bearish lainnya berpotensi terbentuk minggu ini. Bahkan data Nonfarm Payrolls yang lemah serta lonjakan tajam inflasi di kawasan Euro pun gagal memberikan dukungan bagi kubu bull.

*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading
Buka daftar artikel Buka artikel penulis ini Buka akun trading