logo

FX.co ★ AS menghadapi risiko krisis utang dalam 3 tahun ke depan

AS menghadapi risiko krisis utang dalam 3 tahun ke depan

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun bertahan di sekitar 5,3%, mendekati level tahun 2002. Dalam konteks ini, pendiri Bridgewater, Ray Dalio, memperingatkan adanya risiko krisis utang dalam tiga tahun ke depan. Ia berpendapat bahwa pasar obligasi pemerintah AS menjadi semakin rentan karena menurunnya permintaan dari Tiongkok dan Jepang, dua kreditor asing terbesar Amerika Serikat. Dalam skenario tersebut, pemegang obligasi berjangka panjang dan pemerintah sendiri akan dirugikan karena biaya layanan utang menjadi lebih mahal. Pihak yang diuntungkan adalah mereka yang beralih ke emas dan aset lain yang tidak bergantung pada kepercayaan terhadap utang berdenominasi dolar.

AS menghadapi risiko krisis utang dalam 3 tahun ke depan

Logika Dalio cukup lugas. Tiongkok enggan terus memperbesar kepemilikan Treasury AS karena melihat adanya risiko ekonomi dan geopolitik di sana. Jepang, katanya, sudah mulai mengurangi kepemilikan dan ingin memulangkan kembali modalnya. Bagi Jepang, hal ini dapat dimengerti: Bank of Japan telah menaikkan suku bunga menjadi 1,25%, tertinggi sejak 1995, imbal hasil JGB 10 tahun mendekati 3%, dan investasi di dalam negeri menjadi relatif lebih menarik. Ketika dua pembeli terbesar mundur, pihak lain harus menyerap penerbitan, dan imbal hasil pun naik.

Pasar sudah mulai mencium masalah ini. Utang pemerintah AS telah mencapai $40 triliun, dan tahun ini, belanja akan melampaui pendapatan hampir $2 triliun. Upaya Departemen Keuangan AS menopang pasar dengan membeli obligasi pada Agustus dan September gagal berkelanjutan: imbal hasil 30 tahun kembali ke level sebelum program tersebut. Pada saat itu, Scott Bessent mengatakan bahwa biaya pinjaman yang meningkat mencerminkan tren global, tetapi bagi para investor, hal itu terdengar lebih seperti penenang daripada solusi.

Bagian kedua dari peringatan Dalio berfokus pada kecerdasan buatan. Semakin sulit bagi perusahaan teknologi besar untuk membiayai investasi AI dalam skala masif. Jika dulu mereka sering menggalang modal dengan menerbitkan ekuitas, kini mereka semakin banyak berutang. Ini mengaitkan dua risiko sekaligus: pasar obligasi yang melemah dan leverage korporasi yang lebih besar untuk membangun infrastruktur.

Dalio membuka kemungkinan pecahnya gelembung AI. Ia menyatakan bahwa pemicunya mungkin berupa kebutuhan untuk melunasi utang atau penerapan wealth tax. Ini bukan prediksi jangka pendek, melainkan skenario di mana perusahaan yang terbiasa dengan uang murah tiba-tiba harus beroperasi di dunia di mana biaya pinjaman berada di 5,3% dan terus naik.

Namun, pasar saham bertindak seolah tidak ada masalah. S&P 500 terus mencetak rekor tertinggi, demikian pula Nasdaq 100. Sebaliknya, emas tidak rally; harganya diperdagangkan di kisaran $4.120, di bawah dua moving average kunci, karena imbal hasil yang tinggi dan dolar yang kuat mengimbangi permintaan aset lindung nilai.

Apa implikasinya bagi mata uang? Jika permintaan terhadap Treasury AS melemah, dolar menghadapi tekanan ganda: imbal hasil yang naik saat ini memang mendukungnya, tetapi hilangnya kepercayaan pada utang AS pada akhirnya akan menekan mata uang tersebut. Untuk saat ini, hal itu belum terjadi, sehingga dolar tetap menjadi aset defensif yang berada dekat level tertinggi tahunannya dan diuntungkan oleh masalah yang melanda Eropa. Namun, komentar Dalio menunjukkan dari mana pembalikan itu mungkin berasal, bukan dari data ekonomi yang lemah, melainkan dari para kreditur yang mulai menjauh dari pembiayaan defisit AS.

Menurut saya, beberapa minggu ke depan akan menunjukkan seberapa serius pasar memandang risiko ini. Permintaan lelang yang lemah dan rilis notulen The Fed yang bernada hawkish pada hari Rabu dapat mendorong imbal hasil lebih tinggi dan menekan saham, sementara permintaan yang stabil akan memungkinkan pasar menunda kepanikan. Jika imbal hasil 10 tahun mampu bertahan kokoh di atas 5,3%, tekanan pada valuasi saham kemungkinan akan meningkat, dan peringatan Dalio akan mulai terlihat kurang hipotetis.

AS menghadapi risiko krisis utang dalam 3 tahun ke depan

Pada analisis teknikal S&P 500, tugas langsung bagi pembeli hari ini adalah menembus level resistance di $7.824. Hal tersebut akan mengindikasikan potensi kenaikan dan membuka peluang dorongan menuju $7.841. Menguasai area $7.860 juga menjadi prioritas bagi pihak bull untuk memperkuat posisi mereka. Jika harga bergerak lebih rendah seiring pelemahan selera risiko, pembeli harus muncul di sekitar $7.810. Breakout ke bawah level tersebut kemungkinan akan mendorong instrumen ini turun ke $7.793 dan membuka jalan menuju $7.774.

*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading
Buka daftar artikel Buka artikel penulis ini Buka akun trading