
Pada hari Selasa, AUD/USD mencapai level tertinggi bulanan yang baru. Dolar Australia didukung oleh harapan yang kembali muncul akan kemajuan diplomatik antara AS dan Iran. Tekanan tambahan pada mata uang AS datang dari turunnya imbal hasil Treasury dan meningkatnya kekhawatiran terkait valuasi yang dinilai sudah terlalu tinggi pada saham-saham terkait AI.
Channel 12 Israel melaporkan bahwa pimpinan militer Pakistan mengajukan rencana kompromi kepada pejabat Iran, yang mendapat dukungan awal baik dari Washington maupun Teheran. Rencana tersebut bertujuan untuk mencegah eskalasi militer lebih lanjut dan membawa para pihak terkait kembali ke meja perundingan. Laporan itu memperbaiki sentimen di pasar global dan mendukung mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti Aussie.
Dolar AS tetap berada di bawah tekanan setelah menyentuh level tertinggi beberapa bulan pada minggu lalu. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, turun sekitar 0,28% pada hari Selasa ke kisaran 101,70, setelah sebelumnya diperdagangkan mendekati 103 — level tertinggi sejak April 2025 — pada minggu sebelumnya.

Belakangan ini, dolar menjadi sangat sensitif terhadap perubahan sentimen di sektor teknologi. Selama berbulan-bulan, arus masuk modal asing yang besar ke saham AI AS mendukung permintaan terhadap USD. Namun, koreksi di sektor teknologi dan meredupnya optimisme terhadap AI telah mengurangi daya tarik aset AS dan menambah tekanan pada dolar.
Penurunan imbal hasil Treasury AS juga membatasi dukungan bagi dolar. Imbal hasil tenor 10 tahun telah turun ke sekitar 5,08% dari 5,36% pada awal bulan, sehingga mengurangi keunggulan imbal hasil aset berdenominasi dolar dan menciptakan latar belakang yang lebih mendukung bagi AUD/USD.
Meskipun demikian, penguatan AUD terhadap mata uang utama lainnya masih tertahan. Salah satu alasannya adalah keputusan People's Bank of China untuk mempertahankan suku bunga acuan pinjaman utama. Pada hari Selasa, LPR tenor satu tahun tetap sebesar 3,00% dan tenor lima tahun di 3,50%, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Keputusan PBoC mencerminkan sikap hati-hati di tengah ketidakpastian yang berkelanjutan terkait prospek ekonomi Tiongkok. Tiongkok penting bagi Aussie karena merupakan mitra dagang terbesar Australia dan pembeli utama komoditasnya.
Faktor lain yang dapat membatasi pelemahan dolar adalah meningkatnya risiko inflasi akibat mahalnya harga minyak. Pada hari Selasa, WTI diperdagangkan di atas $100/barel, level tertinggi baru dalam sebulan. Serangan Houthi terhadap infrastruktur energi di Saudi dan meningkatnya insiden yang melibatkan kapal di Selat Hormuz telah memperbesar kekhawatiran terhadap gangguan pasokan. Kenaikan biaya energi berpotensi memicu kembali tekanan inflasi di AS, yang dapat mendorong Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Sebuah jajak pendapat Reuters yang diterbitkan pada hari Selasa menunjukkan 94 dari 100 ekonom memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga di 3,75–4,00% pada 27–28 Oktober setelah kenaikan 25 bps pada bulan September, dan seluruh responden memperkirakan akan ada kenaikan lagi pada bulan Desember.
Skenario tersebut akan membatasi pelemahan dolar lebih lanjut dan menahan potensi kenaikan AUD/USD. Dalam jangka pendek, arah pergerakan pasangan ini akan bergantung pada perkembangan di Timur Tengah, harga minyak, imbal hasil Treasury AS, dan penilaian pasar terhadap kebijakan The Fed.
Dari sisi teknikal, meskipun sempat diperdagangkan di atas level psikologis 0,700, pasangan ini sejauh ini belum mampu membukukan penutupan yang bertahan di atasnya. Osilator pada grafik harian bernada negatif, menandakan keunggulan berada di pihak penjual. Support berasal dari pertemuan beberapa moving average, yang membentuk lantai cukup kuat. Namun, sampai pasangan ini mencatatkan penutupan di atas 0,700 dan menembus SMA 200 hari, penjual atau kubu bears kemungkinan masih akan tetap memegang kendali.
