
Dilaporkan, utang nasional Tiongkok mencapai rekor baru, sebesar $4,2 triliun pada tahun lalu, memberikan beban berat pada perekonomian. Pemerintah Tiongkok menyebutkan akumulasi utang pemerintah mencapai 30,03 triliun yuan pada akhir tahun lalu. Sementara itu, jumlah utang pemerintah daerah meningkat hingga 40,737 triliun yuan ($5,756 triliun). Para analis memperkirakan bahwa utang pemerintah telah meningkat 12% pada tahun 2023. Saat ini, angka tersebut sekitar 25% dari PDB negara tersebut. Utang negara terus meningkat sejak tahun 2005. Hampir 20 tahun yang lalu mencapai $400 miliar, para ahli menekankan. Sebelumnya, para ekonom memperkirakan dunia akan menghadapi masuknya impor Tiongkok secara besar-besaran untuk kedua kalinya. Fenomena ini disebut "kejutan perdagangan Tiongkok", yang mengacu pada lonjakan impor barang-barang murah buatan Tiongkok pada akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an. Alasan terulangnya "kejutan Tiongkok" adalah peningkatan aktif produksi barang di Tiongkok, dengan volume melampaui permintaan domestik. Menurut David Autor, profesor ekonomi di Massachusetts Institute of Technology, situasinya akan berbeda karena Tiongkok bersaing dengan negara-negara maju dalam menghasilkan produk-produk teknologi tinggi. Sang ekonom menyimpulkan bahwa negara-negara Barat mempunyai alasan untuk khawatir dalam situasi ini.