
Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan bahwa total PDB dunia setara dengan utang obligasi negara dan korporasi yang dimiliki oleh negara-negara OECD. Hebatnya, kedua indikator tersebut melampaui angka $100 triliun. Angka-angka tersebut dihitung oleh OECD pada akhir tahun 2023.
Para ahli mengatakan bahwa utang yang sangat besar ini terakumulasi sebagai akibat dari kebijakan moneter ekspansif yang dilakukan oleh bank-bank sentral besar sebagai respons terhadap krisis keuangan dunia pada tahun 2008.
Dalam 15 tahun terakhir, utang negara-negara yang berpartisipasi dalam OECD telah membengkak dari $15 triliun menjadi $24 triliun. Menariknya, AS menggandakan pangsanya dibandingkan anggota lainnya. Sekitar 40% obligasi pemerintah akan jatuh tempo pada tahun 2026.
Obligasi korporasi juga mencatat rekor tertinggi. Totalnya meningkat dari $21 triliun $34 triliun. Sepertiga di antaranya akan jatuh tempo dalam tiga tahun.
Yang tak kalah pentingnya, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah jangka pendek Tiongkok turun menjadi 2,94%, level terendah sejak tahun 2007, sehingga menegaskan tingginya permintaan terhadap instrumen keuangan ini.
Komentar: