
Pemilihan presiden AS yang akan datang menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor dan analis. Ada banyak pembahasan dan prediksi, namun manakah yang akan menjadi kenyataan? Hanya waktu yang akan menjawab.
Pemilu yang lalu di negara-negara seperti Meksiko, India, dan Eropa telah mengguncang pasar saham global. Para pakar meyakini bahwa Amerika tidak terkecuali. Para investor di AS bersiap menghadapi volatilitas yang biasanya menyertai kampanye presiden dan pemilu bulan November. Sebelumnya, pelaku pasar menghadapi ketidakpastian terkait inflasi, suku bunga, dan permasalahan geopolitik.
Para analis berpendapat bahwa potensi volatilitas dapat meningkatkan risiko yang sudah signifikan. Saat ini, kancah politik AS menampilkan dua kandidat presiden: Presiden petahana, Joe Biden, dan kandidat Partai Republik, Donald Trump. Debat presiden yang pertama telah diadakan pada akhir Juni.
Secara historis, bulan-bulan menjelang pemilu merupakan bulan-bulan yang menguntungkan bagi pasar saham AS. Sejak tahun 1960, indeks S&P 500 telah menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Satu-satunya pengecualian adalah pada tahun 2000 dan 2008, yang ditandai dengan jatuhnya perusahaan dot-com dan krisis keuangan global. Dalam siklus pemilu baru-baru ini, pasar saham AS menunjukkan kinerja yang sangat bagus.
Namun, ketidakpastian yang terus meningkat dapat menyebabkan perubahan besar. Para pakar memperingatkan bahwa dalam situasi saat ini, perkiraan optimis mungkin tidak akan berjalan dengan baik.
Para analis pasar memperingatkan bahwa pemilu AS mendatang dapat membuat semua orang terus menebak-nebak hingga menit-menit terakhir, dan kejelasan mungkin belum muncul bahkan beberapa hari setelah pemungutan suara. Skenario seperti ini kemungkinan akan meningkatkan volatilitas pasar.
Peristiwa besar apa pun yang berdampak pada perekonomian dapat mengganggu pasar dan menyebabkan volatilitas, termasuk pemilu AS. Grafik berjangka Indeks Volatilitas Bursa Opsi Dewan Chicago, yang dikenal sebagai "pengukur rasa takut" Wall Street, menunjukkan bahwa para trader tengah bersiap menghadapi fluktuasi pasar menjelang pemungutan suara pada bulan November tahun 2024.
Namun, ahli strategi mata uang di Bank of America menegaskan bahwa indeks yang mengukur ketidakpastian politik berada pada titik rendah. Hal ini menunjukkan pasar belum sepenuhnya memperhitungkan potensi peningkatan ketidakpastian politik menjelang pemilu AS. Para investor fokus pada isu-isu seperti perpajakan, perdagangan, dan imigrasi. Topik-topik utama ini akan diawasi secara ketat. Jika Trump menang, hal ini akan menjadi hal yang menarik. Miliarder tersebut sebelumnya telah menyatakan niatnya untuk menurunkan tarif pajak perusahaan, dari saat ini 21% menjadi 20%. Dia juga berjanji untuk menjadikan undang-undang perpajakan Partai Republik yang sangat penting dari tahun 2017 sebagai UU permanen. Sementara itu, Partai Demokrat sedang menyusun rencana untuk menaikkan pajak bagi perusahaan dan individu yang sejahtera.
Permasalahan utama akan berkisar pada perdagangan dan tarif. Trump sebelumnya menyebutkan tarif 10% dan tarif yang lebih ketat terhadap barang-barang Tiongkok. Pemerintahan Biden memberlakukan tarif yang signifikan terhadap berbagai produk Tiongkok, termasuk semikonduktor, baterai, panel surya, mineral, baja, aluminium, dan kendaraan listrik.
Biden mendukung energi hijau. Para analis meyakini bahwa terpilihnya kembali Biden akan menjadi kabar baik bagi sektor ini, termasuk produsen kendaraan listrik dan operator jaringan pengisian daya seperti ChargePoint Holdings Inc., Beam Global, Blink Charging Co., serta pemasok dan produsen baterai. Perusahaan-perusahaan di sektor energi surya, seperti First Solar Inc., SunRun Inc., dan Enphase Energy Inc., juga akan mendapat keuntungan di bawah kepemimpinan Biden. Namun, terpilihnya kembali dirinya menimbulkan risiko yang signifikan bagi beberapa perusahaan keuangan karena pemerintahannya terus memperketat peraturan, meningkatkan persyaratan modal untuk bank-bank seperti Bank of America, JPMorgan Chase & Co., dan Goldman Sachs Group Inc.
Kemenangan Trump akan menjadi pukulan bagi perusahaan-perusahaan yang berkolaborasi dengan Tiongkok, yang berpotensi menghadapi gangguan operasional karena meningkatnya ketegangan perdagangan. Sejumlah perusahaan yang berisiko termasuk produsen semikonduktor seperti NVIDIA, Broadcom Inc., dan Qualcomm Inc., produsen material seperti Air Products and Chemicals Inc. dan Celanese Corporation, serta produsen mobil seperti Tesla Inc. dan BorgWarner Inc.
Sektor energi ramah lingkungan dan kendaraan listrik, yang didukung oleh Undang-Undang Pengurangan Inflasi Biden, akan menghadapi tantangan karena Trump siap mencabut kebijakan kendaraan listrik Biden.
Perusahaan-perusahaan minyak dan gas akan mendapatkan keuntungan dari sikap Trump yang pro-minyak, karena ia telah berjanji untuk mencabut pembatasan ekstraksi sumber daya dalam negeri. Dalam kondisi saat ini, para ahli berpendapat bahwa ada baiknya memantau saham perusahaan seperti Baker Hughes Co., Exxon Mobil Corp., ConocoPhillips, Occidental Petroleum Corporation, dan Chevron Corp.
Industri cryptocurrency juga dapat berkembang di bawah Trump, karena mantan presiden tersebut sering menyebut Bitcoin dan aset digital lainnya. Namun, para analis berspekulasi bahwa hal ini mungkin merupakan taktik untuk menarik pemilih baru. Oleh karena itu, para ahli merekomendasikan untuk memperhatikan saham perusahaan seperti Coinbase Global Inc., Marathon Digital Holdings Inc., Riot Platforms, MicroStrategy Incorporated, dan Cipher Mining Inc.
Komentar: