
Para analis menggarisbawahi perbedaan pada prediksi terkait bagaimana strategi kandidat presiden dapat diimplementasikan. Apa artinya? Apakah perekonomian AS akan menderita apabila Donald Trump memenangkan pemilu? Bagaimana jika Joe Biden melanjutkan jabatan? Menurut para ahli, skenario ini jauh dari kata sejahtera. Dengan kata lain, warga Amerika harus membuat pilihan yang sulit, menyeimbangkan antara kedua pilihan krusial.
Menurut laporan terbaru dari The Wall Street Journal (WSJ), sebagian besar pakar ekonomi memperkirakan akan terjadi percepatan inflasi, defisit anggaran, dan kenaikan suku bunga apabila Donald Trump terpilih sebagai presiden. Namun, dengan Joe Biden menjalani masa jabatan kedua, skenario seperti ini tidak mungkin terjadi.
Dalam survei triwulanan WSJ yang melakukan survei pada 68 analis bisnis dan keuangan, mayoritas (56%) yakin bahwa tingkat inflasi akan lebih tinggi di masa pemetintahan Donald Trump dibandingkan pada masa pemerintahan Joe Biden. Sedangkan, 16% responden berpendapat sebaliknya, dan sisanya tidak melihat adanya perbedaan yang signifikan.
Majalah ini percaya bahwa pandangan para pakar ekonomi mengenai inflasi dan suku bunga dipengaruhi oleh kebijakan Partai Republik, terutama yang berkaitan dengan perdagangan dan imigrasi. Namun, opini-opini ini tidak akan mengalami perubahan radikal apabila kandidat Partai Demokrat lain selain Joe Biden yang mencalonkan diri.
Sebelumnya, para pakar ekonomi meningkatkan perkiraan mereka terhadap produk domestik bruto AS ke angka 1,7% pada tahun 2024. Angka ini jauh di bawah pertumbuhan PDB sebesar 3,1% pada tahun 2023. Para pakar tersebut harus melakukan revisi perkiraan mereka berdasarkan laporan inflasi baru-baru ini. Para pakar menilai ada kemungkinan resesi dalam 12 bulan ke depan sebesar 28%. Hal yang menarik, perkiraan saat ini tidak banyak berubah dibandingkan survei sebelumnya yang dilakukan pada bulan April 2024.
Komentar: