
Krisis zona euro yang berkepanjangan, meningkatnya resesi dan sistem perbankan yang tidak stabil akan mengarah kepada sebuah bencana "Eurogeddon". Kantor berita Perancis Agence France-Presse melaporkan bahwa pernyataan tersebut terkandung dalam penelitian yang dilakukan oleh grup konsultan ekonomi Australia Deloitte-Access Economics (yang juga memberikan pendapat nasehat kepada Pemerintah Australia).
Survei tersebut menunjukkan bahwa "Eurogeddon" dapat memiliki dampak yang menghancurkan seperti penurunan keuangan di tahun 2008-2009 dan akan diperdalam oleh kurangnya perhatian dari pihak berwenang. Berdasarkan para ahli di Deloitte-Access Economics, kali ini pihak berwenang tidak melakukan banyak tindakan untuk mengurangi resiko dibandingkan dengan 3 tahun lalu. Sebagai contoh, negara-negara tersebut memotong utang luar negeri mereka terlalu lambat.
Grup konsultan menempatkan isu masa depan euro ini menjadi prioritas utama untuk ditangani di tahun 2012. Dengan adanya resesi di tahun ini, maka permintaan barang, barang mentah dan sumber energi akan menurun dengan tajam, termasuk batu bara dan baja.
Ahli organisasi mempertimbangkan Cina sebagai negara yang mendapatkan dampak terparah dari resesi Eropa, permintaan yang menurun juga akan menyusutkan pendapatan penduduk dan anggaran negara.
Kata "Eurogeddon" mulai digunakan secara umun di kuartal keempat tahun 2011 di dalam blog dan media massa keuangan. Para ekonom menggunakan kata tersebut ketika nilai euro jatuh atau pada saat resesi besar di dalam zona euro yang mengakibatkan laju pertumbuhan yang rendah di kawasan lainnya.