
Utang publik AS meningkat sebesar $2,25 triliun selama tahun pertama masa jabatan Presiden Donald Trump, mencapai total $38,5 triliun. Menurut Departemen Keuangan AS, ini menandai peningkatan utang federal terbesar oleh seorang presiden tunggal dalam sejarah. Puncak sebelumnya terjadi selama masa jabatan mantan Presiden Joe Biden, ketika utang meningkat sebesar $2,1 triliun. Ini menggarisbawahi percepatan akumulasi utang di bawah pemerintahan saat ini.
Peningkatan pesat pinjaman pemerintah mencerminkan berbagai faktor, termasuk pemotongan pajak, pengeluaran militer yang lebih tinggi, dan langkah-langkah stimulus fiskal yang dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Meskipun kebijakan fiskal tersebut mendukung permintaan jangka pendek, hal itu juga memperdalam defisit struktural, yang membutuhkan pembiayaan yang semakin besar dalam jangka panjang. Utang publik yang tinggi membatasi fleksibilitas kebijakan dalam menghadapi krisis.
Valerie Hayer, anggota Parlemen Eropa, mengusulkan penggunaan utang AS yang terus meningkat sebagai alat tawar-menawar terhadap Trump terkait masalah Greenland. Ia juga menyoroti akses Uni Eropa ke pasar dengan 450 juta konsumen sebagai alat tawar-menawar potensial. Saran-saran ini mencerminkan kesiapan Eropa untuk menggunakan pengaruh ekonomi dalam benturan kepentingan dengan pemerintahan AS.