
Negara-negara G7 berencana untuk melepaskan cadangan minyak strategis ke pasar untuk menstabilkan harga. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah hingga $119 per barel pada 9 Maret 2026.
“Kami akan memantau perkembangan dengan cermat dan siap untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan, termasuk memanfaatkan cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasar,” ujar Roland Lescure, Menteri Keuangan Prancis. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi volatilitas setelah kenaikan tajam harga minyak sebesar 25%. Namun, menurut para analis di Financial Times, pelepasan ratusan juta barel tidak akan menghasilkan efek jangka panjang tanpa penghentian permusuhan.
Perwakilan Morgan Stanley, Martin Ratz, menggambarkan situasi tersebut sebagai "guncangan pasokan terbesar" dalam sejarah industri ini. Krisis saat ini melampaui skala gangguan yang terlihat selama krisis Suez tahun 1950-an. Pemanfaatan cadangan saat ini menegaskan peningkatan tekanan di pasar energi global.
Seperti yang dinyatakan oleh Paul Horsnell, seorang peneliti di Oxford Institute for Energy Studies, "Sangat, sangat sulit untuk mengganti arus dengan stok." Menyusul pernyataan dari Presiden AS Donald Trump, harga minyak Brent stabil di sekitar $100. Para investor menafsirkan pernyataannya sebagai tanda potensi penurunan ketegangan di Timur Tengah.