
Kamar Dagang Amerika (US Chamber of Commerce) memperingatkan bahwa program "Made in China 2025" milik Tiongkok bisa menggantikan hingga $650 miliar ekspor manufaktur dari negara‑negara G7 pada 2030, kerugian yang setara sekitar 12% dari total ekspor manufaktur kelompok tersebut, menurut organisasi perdagangan itu.
Pemerintah Tiongkok mendorong inisiatif "Made in China 2025" untuk mengamankan kepemimpinan global di sejumlah sektor, tulis laporan tersebut. Beijing telah mengambil posisi dominan dalam produksi panel surya, pembangunan sistem kereta cepat, dan manufaktur baterai lithium‑ion. Mereka menambahkan bahwa dukungan negara juga memungkinkan kenaikan pangsa pasar yang cepat di industri otomotif, mesin berat, dan sektor kimia global. Dokumen tersebut menyatakan bahwa kebijakan industri Tiongkok semakin bersifat sistemik dan meluas, serta bahwa Beijing aktif memperkuat kontrolnya atas rantai nilai global dengan memanfaatkan alat regulasi dan langkah‑langkah paksaan ekonomi.
Kamar Dagang ini mencatat bahwa subsidi negara yang agresif telah mempersempit kesenjangan teknologi dengan Barat di bidang seperti farmasi dan pengembangan kecerdasan buatan. Para analis memperingatkan dinamika ini berisiko menyebabkan deindustrialisasi skala besar di ekonomi maju dan bisa merusak ekosistem inovasi nasional.
Para ahli Bloomberg yang dikutip dalam laporan tersebut menekankan bahaya erosi kapasitas manufaktur yang bersifat tak terbalikkan akibat anjloknya investasi sektor swasta di AS dan Eropa. Analisis Kamar Dagang tertanggal 14 Mei 2026 menyimpulkan bahwa jika laju ekspansi Tiongkok tetap seperti sekarang, hingga $650 miliar ekspor manufaktur G7 berpotensi tersingkir dari pasar global pada 2030.
Laporan tersebut menyatakan bahwa langkah‑langkah ad hoc Barat, termasuk susunan tarif yang bersifat tambal sulam, terbukti tidak efektif. Mereka mendesak pemerintah untuk mengadopsi strategi terkoordinasi guna melindungi rantai pasokan yang kritis, mengurangi paparan strategis, dan mengembangkan kebijakan industri terpadu untuk menanggapi pendekatan yang dipimpin negara dari Beijing.