
Menurut Capital Economics, harga minyak global dapat melebihi $150 per barel jika konflik militer di Iran berlanjut. Skenario ekstrem ini akan mempertahankan harga minyak mentah Laut Utara pada rekor tertinggi hingga akhir tahun 2027 dan mempercepat inflasi global.
Prediksi dasar memprediksi bahwa pemulihan pasokan energi Timur Tengah dalam waktu dekat. Namun, dalam skenario yang merugikan, serangan militer Iran terhadap infrastruktur energi regional dapat berlanjut, berpotensi mendorong harga minyak mentah Brent naik hingga $130 per barel pada pertengahan tahun 2026. Harga setinggi itu dapat memicu tingkat inflasi global sebesar 2,5% pada paruh kedua tahun 2026.
Blokade berkepanjangan di Selat Hormuz tetap menjadi katalis utama bagi peningkatan pesat harga minyak dan bahan bakar di pasar internasional. Sebelum permusuhan dimulai, jalur logistik strategis di Timur Tengah ini memfasilitasi transportasi sebagian besar aliran hidrokarbon global. Penutupan jalur maritim ini dengan cepat meningkatkan nilai pasar minyak mentah, dengan harga puncak hampir mencapai $120 per barel selama periode ketegangan yang meningkat.
Saat ini, minyak mentah Laut Utara diperdagangkan di pasar internasional sekitar $108 hingga $109 per barel. Bank Investasi Amerika, Goldman Sachs, juga menegaskan bahwa harga minyak mentah Brent pasti akan naik hingga sekitar $150 per barel apabila terjadi blokade berkepanjangan di selat tersebut. Reuters mencatat bahwa prediksi ini mencerminkan kekhawatiran yang semakin meningkat di antara lembaga keuangan mengenai stabilitas rantai pasokan.
Komentar: