logo

FX.co ★ BofA peringatkan India harus menyeimbangkan dukungan pertumbuhan dengan kenaikan inflasi dan risiko mata uang

BofA peringatkan India harus menyeimbangkan dukungan pertumbuhan dengan kenaikan inflasi dan risiko mata uang

BofA peringatkan India harus menyeimbangkan dukungan pertumbuhan dengan kenaikan inflasi dan risiko mata uang

Reserve Bank of India (RBI) kemungkinan akan mempertahankan suku bunga kebijakan pada pertemuan Juni mendatang namun mengambil sikap yang lebih tegas terhadap langkah di masa depan. Dalam laporan analitis baru, BofA Global Research menyatakan bahwa regulator India berada dalam posisi makroekonomi yang sulit, terpaksa merangsang pertumbuhan domestik sekaligus mempertahankan nilai rupee. Mata uang itu terus mendapat tekanan kuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, lonjakan harga komoditas dunia, dan melebar-nya defisit perdagangan. Namun kondisi domestik saat ini belum membenarkan langkah-langkah darurat. Pada April, indeks harga konsumen tercatat 3,48%, di bawah target bank sentral sebesar 4%, dan aktivitas industri saat ini belum menunjukkan tanda-tanda overheating yang jelas.

Meskipun inflasi inti stabil di sekitar 3,7%, pasar keuangan semakin memprice‑in kemungkinan pengetatan kondisi moneter di masa depan. Investor internasional memperkirakan lebih dari 100 basis poin kenaikan suku bunga di India selama setahun ke depan seiring meningkatnya kekhawatiran atas pelemahan rupee dan risiko inflasi impor. Walaupun harga grosir domestik melonjak akibat kenaikan biaya energi, efek langsungnya terhadap sektor ritel sejauh ini relatif terbatas. Para analis mencatat bahwa respons tradisional regulator terhadap pelemahan mata uang adalah menaikkan suku bunga untuk meningkatkan daya tarik aset lokal. Namun dalam situasi saat ini, langkah-langkah kecil dari bank sentral bisa jadi tidak efektif, dan hanya pengetatan substansial yang dapat menstabilkan sentimen pasar.

Dalam jangka panjang, para ahli memperkirakan tekanan inflasi di ekonomi India akan semakin kuat. Karena tingginya harga bahan bakar dan energi global, inflasi headline berpotensi melampaui 5% pada September 2026 dan tetap tinggi hingga awal 2027. Faktor risiko utama adalah anomali iklim: probabilitas terjadinya El Niño diperkirakan 82%, yang dapat mengganggu hujan monsun musiman dan memukul sektor pertanian serta produksi pangan. Meski demikian, dalam beberapa bulan terakhir Reserve Bank of India terus memasok likuiditas ke sistem keuangan, memprioritaskan dukungan terhadap pertumbuhan dibandingkan pembelaan ketat terhadap kurs. Skenario dasar membayangkan penahanan suku bunga pada Juni untuk secara bertahap mempersiapkan investor terhadap siklus pengetatan kebijakan di masa mendatang, dengan kenaikan pertama diperkirakan sekitar Desember.

*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading
Buka daftar artikel Buka akun trading