
Philip Lane, kepala ekonom di Bank Sentral Eropa, mengakui bahwa inflasi di zona euro tidak akan kembali ke target 2% pada tahun 2026. Menurut perkiraannya yang dikutip oleh Bloomberg, pertumbuhan harga konsumen di blok mata uang ini akan tetap sekitar 3% hingga akhir tahun. Alasan utama untuk tekanan harga yang terus-menerus adalah perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah, dan perkembangan selanjutnya akan bergantung secara langsung pada prospek penyelesaian krisis Iran.
Pada Juli 2026, inflasi tahunan di zona euro naik tipis menjadi 2,9% setelah sebesar 3,2% pada bulan Mei dan 3,0% pada bulan April (untuk perbandingan, suku bunga pada bulan Mei 2025 adalah 1,9%). Penyebaran yang signifikan tetap ada di antara negara-negara Eropa individual: kenaikan tahunan terendah sebelumnya dicatat di Swedia (1,1%), Denmark, dan Republik Ceko (keduanya 1,8%), sementara tingkat tertinggi terlihat di Rumania (9,7%), Bulgaria (6,3%), dan Lituania (5,1%).
Meskipun tekanan inflasi yang terus berlangsung, ekonomi zona euro menunjukkan ketahanan terhadap guncangan eksternal. Pada kuartal kedua tahun ini, pertumbuhan PDB regional melebihi ekspektasi analis dan mencapai 0,4%. Lane mengatakan bahwa ekonomi Eropa saat ini mampu menghadapi tantangan dan dalam kondisi "baik," sambil memperingatkan bahwa risiko ketidakstabilan baru tetap ada.