
Konsentrasi rantai pasok untuk kecerdasan buatan (AI) di tangan segelintir negara dan perusahaan menimbulkan ancaman serius bagi stabilitas keuangan global. Demikian peringatan yang disampaikan oleh Silvana Tenreyro, Kepala Ekonom IMF, dalam sebuah sesi IMF-Bank Dunia di Bangkok, sebagaimana dilaporkan oleh TASS. Meskipun ledakan teknologi digital telah menjadi pendorong utama kebangkitan ekonomi global, strukturnya justru menciptakan ketidakseimbangan yang berbahaya.
Tenreyro menyoroti hambatan kritis yang muncul akibat terkonsentrasinya produksi cip dan infrastruktur di tangan segelintir pelaku industri. Ia menambahkan bahwa koreksi pada aset teknologi yang dinilai terlalu tinggi (overvalued) atau insiden siber berskala besar dapat dengan cepat merambat melalui rantai pasok dan menghambat pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia.
Lonjakan teknologi ini juga memperuncing tantangan di pasar tenaga kerja. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengibaratkan dampak otomatisasi terhadap lapangan kerja sebagai "tsunami yang bergerak lambat." IMF memperingatkan bahwa adopsi jaringan saraf tiruan (neural networks) secara luas dapat menimbulkan konsekuensi sosial yang besar, dengan pekerja muda dan lulusan baru sebagai kelompok yang paling rentan.