Meski beberapa bank sentral di dunia mengambil langkah-langkah untuk mendorong ekonomi, namun pertumbuhan ekonomi global masih lebih lemah dari krisis keuangan 2008. Laporan Naxitis menyatakan bahwa di 2015, pertumbuhan ekonomi global hanya mencapai 2%. Selain itu, pertumbuhan yang lebih cepat sulit terjadi karena setiap kawasan memiliki permasalahannya sendiri dan mengabaikan penerapan langkah-langkah umum.
Turunnya persaingan di Tiongkok dipicu oleh meningkatnya biaya buruh. Sementara itu, di Rusia, devaluasi mata uang nasional mengakibatkan biaya buruh yang lebih rendah. Di Jepang, indikator juga menurun, namun tetap sama selama lebih dari 10 tahun.
Eropa masih mengalami penurunan investasi ekonomi. Meski telah keluar dari resesi panjang, pertumbuhan ekonomi masih lemah dengan PDB naik sekitar 1% selama dua tahun terakhir.
Jatuhnya harga minyak dan gas membebani pertumbuhan ekonomi AS dan menghasilkan penurunan investasi dan produksi industri. Namun, menurut laporan Natixis, AS adalah satu-satunya negara dengan perkiraan ekonomi yang optimis.