
Tiongkok terus-menerus bertujuan menjadi negara terdepan diseluruh dunia pada sebagian besar angka utama. Mungkin itulah mengapa utang publik luar negeri tumbuh dengan pesat. Pemerintah mengeluarkan data untuk triwulan 2 menunjukkan bahwa utang mencapai sekitar 10,227 triliun yuan yang setara dengan 1,7 triliun dolar AS. Oleh karena itu, ini merupakan pertama kalinya saat angka melebihi batas psikologi sebesar 10 triliun yuan. Secara keseluruhan, mulai April hingga Juli utang luar negeri naik tecatat sebesar 63 persen. Patut dikatakan akun wajib jangka pendek untuk 1,17 dolar AS berada dalam utang. Diwaktu yang samadua pertiga dari hutang publik dalam mata uang dolar AS dan utang dalam akun euro dan yen Jepang masing-masing 6 dan 4 persen. Mengingat kembali bahwa, pernyataan tegas Tiongkok mengenai penolakan dalam menggunakan dolar AS sebagai mata uang utama bagi pembayaran internasional terdengar sedikit ganjil. Otoritas Tiongkok meminjam dan memiliki cadangan dalam dolar AS saat mencoba untuk meyakinkan masyarakatnya untuk tetap memiliki tabungannya dalam yuan. Ekonom mengatakan bahwa pertumbuhan hutang publik dapat didorong oleh data negatif untuk triwulan 3 yang ditandai oleh gangguan pada seluruh pasar di wilayah Asia Pasifik. Shenzhen Composite dan Shanghai Composite telah menunjukkan hasil terburuk sejak krisis finansial global terbaru karena mereka kehilangan sekitar sepertiga dari nilainya.