
Rusia terus menuduh Turki karena penyelundupan minyak ISIS. Turki kemudian menyangkal bahwa mereka memperoleh minyak selain dari sumber yang legal. Sementara itu, ekspor bahan bakar ilegal tetap menjadi salah satu dari sumber utama pendanaan bagi kelompok brutal, yang membuat masalah ini menjadi lebih penting. Saat ini media Eropa telah menyingkap data yang relevan menyusul agensi berita Rusia yang digunakan untuk menjadi satu-satunya sumber informasi dari hubungan Turki yang dipertanyakan dengan sindikat teroris. Oleh karena itu, Die Presse, seorang pelapor berita asal Austria, menerbitkan materi yang mendukung kerjasama antara Negara Islam dan otoritas Turki. Menurut data yang diungkapkan, Ankara berhasil mengembangkan hubungan beraneka ragam dengan ISIS dari yang bisa diduga oleh komunitas global. Para ahli meminta perhatian khusus pada wilayah-wilayah antara kota Jarabulus dan Kilis. Disini, para kelompok brutal mengendalikan hampir 100 kilometer perbatasan Suriah-Turki. Dan disinilah tempat dimana penyelundupan minyak mentah memulai perjalanannya pada pasar komoditas global. Selain itu, para militan menggunakan wilayah perbatasan yang bermasalah ini untuk perdagangan senjata, uang , barang-barang antik, dan makanan. Pimpinan koalisi AS, dimana Turki telah bergabung, membuat upaya keras untuk mencegah perdagangan. Kedua analis menyusul situasi diwilayah dan pasukan yang mengamankan wilayah mencatat penurunan signifikan dalam penyelundupan minyak ke rute utama.