Industri minyak AS melalui masa yang sulit karena penurunan yang disebabkan oleh menguatnya kurs dolar sehingga mempengaruhi penjualan di luar negeri. Sebagai hasilnya, mayoritas produsen AS terkena imbas negatif dari fluktuasi di pasar forex dan harga bahan mentah yang tidak stabil. Para analis mengatakan bahwa meski telah melakukan langkah-langkah untuk memulihkan ekonomi AS dan normalisasi kebijakan moneter, namun industri AS mengalami kesulitan untuk keluar dari resesi. Perlambatan yang cepat dalam sektor industri mengkonfirmasi hal tersebut. Menurut Chad Moutray, ekonom kepala di Asosiasi Produsen Nasional mengatakan bahaw tahun lalu produksi manufaktur AS naik 4,5% per tahun. Tahun ini ia memperkirakan produksi hanya akan tumbuh 1,4%.
Pertumbuhan dipengaruhi oleh melambatnya ekonomi Tiongkok dan gejolak di pasar global.
Ditambah dengan penurunan tajam mata uang mitra dagang lainnya ditengah-tengah turunnya permintaan global.
Para ahli yakin bahwa meski dihantui oleh isu-isu di atas, industri AS akan dapat mengatasi perlambatan industri karena bagian akun manufaktur dan ekspor masing-masing tidak lebih dari 12% PDB. Ekonomi AS lebih bergantung pada konsumen Amerika daripada produsen atau situasi ekonomi di Tiongkok.