Pasar Turki dengan segera kehilangan para investor. Pada pertengahan Februari, pelaku pasar mulai menjual obligasi daulat dolar Turki dalam upaya untuk melindungi aset mereka dari gagal bayar. Alasan utama untuk meninggalkan pasar adalah meningkatnya konflik militer di perbatasan dengan Suriah. Pemerintah Turki mengumumkan bahwa mereka siap untuk mengambil langkah ekstrim, jika tentara Kurdish mendekati wilayah utara Suriah yaitu Azaz. Beberapa sumber melaporkan bahwa pasukan Turki dikerahkan di wilayah tersebut. Namun, Ankara menolak informasi tersebut. Meskipun demikian, trader telah memutuskan untuk menjual obligasi Turki.Situasi juga didorong oleh pimpinan Komite Urusan Internasional Rusia Konstantin Kosachev. Ia mengatakan bahwa terdapat kemungkinan terjadinya perang Rusia-Turki. Kebijakan agresif Turki terkait dengan Suriah bisa memicu perang dengan Rusia. Kosachev mengatakan bahwa Turki tidak akan memiliki dukungan dari negara Barat. Selain itu, ia menambahkan bahwa terdapat resiko potensi perang dengan Iran dan bahkan lebih buruk, dengan Rusia yang telah terbukti kekuasaan dan kemampuan untuk memanfaatkannya.
Oleh karena itu, spread antara yield obligasi Turki dan obligasi AS mencapai level tertinggi yang terakhir diamati bulan September, 2015. Selain itu, yield obligasi dua tahun mencapai hampor di ketinggian 3 minggu. Diwaktu yang sama, lira Turki turun 0,7% melawan dolar.