Kenaikan harga minyak menghasilkan kerugian untuk para spekulan. Mereka yang memperkirakan devaluasi mata uang Arab Saudi juga mengalami kerugian. Ditengah-tengah jatuhnya harga minyak terdapat spekulasi bahwa pemerintah Arab Saudi akan mengabaikan peg dollarnya. Karena rendahnya harga minyak, Arab Saudi menghadapi defisit anggaran sekitar 20% namun devaluasi riyal dapat mengatasi permasalahan tersebut.
Sepanjang tahun lalu, trader mendukung gagasan bahwa Arab Saudi akan melakukan de-peg terhadap mata uangnya, dengan menggunakan forward bond market. Di Januari, peluang terjadinya devaluasi memuncak, namun karena harga minyak mulai naik, peluang pemerintah memutuskan untuk unpeg riyal turun drastis.
Harga minyak naik selama dua bulan berturut-turut dan harga minyak mentah naik 50% dari level terendahnya. Riyal ditetapkan sebesar 3,75 per dolar AS sejak 3,86.
Ekonom Senior di HSBC, Simon Williams, mencatat bahwa peg dipertahankan selama 30 tahun dalam periode lonjakan dan penurunan harga minyak. Oleh karena itu, menurut Williams harga minyak mentah tidak cukup untuk membuat Riyadh mengubah kebijakannya.