Akhir-akhir ini, nilai dolar AS yang overvalue telah menjadi kutukan bagi ekonomi global. Bank-bank sentral di seluruh dunia mengawasi dengan seksama setiap pidato dari Pimpinan Dewan Federal Reserve AS Janet Yellen, khususnya komentarnya mengenai kebijakan moneter selanjutnya. Sementara itu, ekonomi AS mulai merangkak naik dan pasar buruh menguat. Namun, gejolak ekonomi global membayangi pemulihan kuat di AS. Media-media Barat melaporkan bahwa beberapa gubernur bank sentral seperti Pimpinan Fed AS, Managing Director IMF Christine Lagarde, Presiden ECB Mario Draghi, Menteri Keuangan AS Jacob Lew, Gubernur Bank of Japan dan PBOC telah mengadakan rapat nonformal. Satu-satunya isu yang dibahas adalah cara menahan nilai dolar. Yang menjadi kejutan adalah hadirnya pejabat resmi AS dalam rapat tersebut. Namun, faktanya otoritas moneter AS juga tertarik untuk melemahkan nilai dolar. Menurut beberapa sumber, profesional keuangan terkemuka mencapai sebuah kesepakatan untuk devaluasi mata uang AS. Jika keputusan ini diterapkan, maka devaluasi dolar AS akan berdampak ke semua negara.
Namun, dalam rencana lainnya, pihak regulator dapat terlibat lebih awal dan memperkuat upaya mereka. "Jika ini terjadi maka harga emas akan naik dan mendorong investor untuk mengalihkan fokus kembali ke emas. Emas menjadi aset yang cukup menjanjikan. Namun, nilainya dapat naik tajam ke beberapa ribu dolar per troy ounce. Rencana ini lebih nyata," Nikolay Melnychuk di Laboratorium Teknologi Investasi mengatakan.