Terkait pemulihan harga minyak, beberapa produsen minyak shale AS memulai kembali aktivitas penggalian yang sebelumnya terpaksa ditutup. Namun, kini mereka harus menerima kenyataan untuk kembali menutup sumur-sumur minyak mereka. Perusahaan minyak shale menggapai peluang untuk melanjutkan ekstraksi di area-area paling produktif ditengah-tengah kenaikan harga minyak. Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Produksi minyak dan gas shale di Amerika Serikat tidak sempat naik, namun turun 25-30%, seperti yang dilaporkan oleh IHS Global. Biaya produksi minyak shale lebih mahal dari ekstraksi minyak mentah dan di saat jatuhnya harga minyak banyak perusahaan yang merugi. Tren terbaru dalam pasar minyak global mendorong produsen minyak shale untuk melanjutkan operasi. Sementara, kenaikan harga minyak tidak berlangsung lama dan turun ke level terendah sebelumnya, mencegah perusahaan minyak shale memulai kembali pengeboran minyak mereka. Tidak ada alasan ekonomi yang mendukung dilanjutkannya eksplorasi ladang minyak ini. Selain itu, perusahaan-perusahaan tersebut tertinggal dalam hal teknologi ekstraksi yang dapat meningkatkan produktivitas pengeboran secara signifikan.
Menurut beberapa ahli, harga minyak akan terus turun dan produsen minyak shale akan beroperasi di bawah titik break-even. Harga minyak yang murah bahkan tidak memungkinkan perusahaan mendapatkan pinjaman untuk eksplorasi ladang minyak.