
Rusia berhasil bertahan dalam persaingan di pasar minyak mentah dunia. Arab Saudi berperan sebagai rival utama dalam persaingan minyak sepanjang tahun. Kerajaan tersebut menetapkan harga dalam skala besar untuk menahan pangsa pasarnya. Saudi memilih strategi meningkatkan produksi minyak yang akan menjatuhkan harga kontrak pengiriman minyak. Di satu sisi, kebijakan seperti ini setidaknya membantu untuk mempertahankan pola yang sudah ada jika tidak menarik yang baru. Di sisi lain, melakukan dumping terhadap minyak merugikan Arab Saudi sendiri, yang terbiasa hidup mewah dari hasil ekspor minyak.
Otoritas Saudi harus mengumumkan pemotongan pengeluaran dan meningkatkan harga bahan bakan domestik yang kesulitan karena terbiasa dengan harga minyak yang murah. Pemerintah juga berencana untuk merevisi subsidi untuk energi dan kebutuhan lainnya.
Lebih jauh, para pejabat mengumumkan rekor defisit anggaran untuk tahun ini, dan GDP dipredksi akan turun sekitar 20 persen. Oleh karenanya, tujuan utama kebijakan dumping, yaitu mempertahankan pangsa pasar, tidak tercapai. Untuk merangkum tahun ini, pemasok minyak Rusia melaporkan kesuksesan mereka dalam menjangkau pasar baru, khususnya Cina. Sebagai catatan, Cina adalah pembeli minyak mentah terbesar dunia.
Data dari General Administration of Customs Cina menunjukkan bahwa suplai minyak Saudi turun dari 55 juta menjadi 20 juta ton. Di sisi lain, ekspor Rusia ke Cina naik menjadi 34 juta ton. Angka tersebut memastikan fakta bahwa Federasi Rusia dan Cina memperkuat dan mengembangkan hubungan dagang mereka dan juga kerjasama dalam bidang energi dan sektor ekonomi lainnya.