Komunitas dunia telah memulihkan keyakinannya terhadap keajaiban ekonomi di Tiongkok. Koreksi pasar saham Tiongkok dan devaluasi mata uang membuat gelombang kejutan di pasar global untuk waktu yang lama. Seluruh negara telah mengawasi upaya Beijing untuk menghadang volatilitas tinggi di pasar saham dan mendorong pertumbuhan ekonomi. "Tiga bulan lalu, dunia panik karena ekonomi Tiongkok melambat tajam. Pemerintah Tiongkok melakukan kesalahan fatal di pasar saham. Pasar menyuarakan kekhawatirannya mengenai serangkaian tindakan tak terduga untuk menurunkan nilai yuan," David Dollar mengatakan, seorang Senior Fellow dalam John L.Thornton China Center di Brookings Institution. Dengan menjadi ekonomi terbesar kedua dunia, bahkan kontraksi minor ekonomi Tiongkok memberikan kontribusi terhadap gejolak pasar. Oleh karena itu, Tiongkok boleh bernapas lega setelah data makroekonomi yang positif untuk triwulan 1 menyanggah ketakitan mengenai jatuhnya ekonomi.Ekonomi Tiongkok naik 6,7% per tahun di triwulan 1 2016. Produksi industri yang merupakan barometer kesehatan ekonomi, naik 6,8%. Di Maret, ekspor mencatatkan pemulihan tajam sebesar 11%,hal ini menunjukkan pertumbuhan untuk pertama kalinya sejak musim panas 2015. Penjualan retail naik 10,3% di triwulan 1 dari 10,2% di triwulan akhir tahun lalu. "Data ekonomi Tiongkok menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, termasuk angka PMI baru-baru ini, serta angka produksi industri dan penjualan retail terbaru," Suan Teck Kin, seorang ekonom di United Overseas Bank (Singapura), berkomentar mengenai statistik terbaru dari Tiongkok. Para ahli independen mencatat bahwa sebagian besar negara harus menerima laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang lebih rendah.