
Selagi Arab Saudi dan Rusia sedang bersaing ketat dalam urusan ekspor minyak bumi ke China, Republik Angola malah mampu menyaingi kedua negara rivalnya tersebut. Rusia dan Cina tidak mampu mencapai kesepakatan bagaimana caranya kembali menyeimbangkan pasar minyak dunia. Baru-baru ini, negara dari benua Afrika yang termasuk paling kecil ini telah memimpin sebagai pengeskpor minyak ke Cina.
Cina merupakan konsumen minyak terbesar kedua setelah Amerika. Selain itu, pasar minyak bumi di Cina saat ini tengah populer di kalangan negara eksportir minyak. Hal ini mengacu pada apa yang administrasi bea cukai di China laporkan, jumlah impor minyak dari Republik Angola melonjak tinggi mencapai 46% pada bulan September atau hingga mencapai 4,19 juta ton per tahunnya. Irak merupakan pemasok minyak untuk Cina terbesar kedua, sedangkan Rusia saat ini berada di peringkat tiga. Secara keseluruhan, konsumen minyak raksasa di Asia mengimpor sebanyak 33.060.000 ton minyak pada bulan September 2016, 18,6% lebih tinggi dari bulan September tahun lalu.
Meskipun begitu, untuk mengamankan status sebagai pemasok terkemuka bagi China, tentu saja Republik Angola membutuhkan usaha yang maksimal. Misalnya saja Rusia tahun ini berhasil berada di peringkat satu sebagai pemasok minyak terbesar selama tiga bulan dari total sembilan. Sejak awal tahun 2016 produsen minyak asal Rusia telah meningkatkan jumlah pasokan minyak mereka ke Cina sebesar 26% menjadi 38,1 juta ton dibandingkan dengan bulan Januari-September 2015. Rusia masih 'kalah' dari Arab Saudi sebagai 'rajanya' eksportir minyak yang telah mengekspor sebanyak 38.750.000 ton minyak pada periode yang sama tahun ini. Ahli komoditas menemukan dua alasan di balik kesuksesan Republik Angola yang mengejutkan. Ini terjadi karena kilang minyak Cina tertarik untuk mendapatkan keuntungan karena harga minyak Angola lebih murah karena perdagangan minyak Afrika berada dibawahEastern Siberia – Pacific Ocean Oil Pipeline (ESPO) dan benchmark Dubai di Timur Tengah. Selain itu, saat ini Rusia dan Arab Saudi sedang fokus untuk mengatasi kelimpahan minyak secara terus-menerus. Baru-baru ini, para menteri mineral dan gas dari negara-negara pengekspor minyak terbesar telah membulatkan niat mereka untuk menstabilkan pasar minyak global.