
Ketika dunia sedang mencoba menerima fakta Trump menjadi Presiden AS, Rusia menghadapi kejutan besar lainnya. Presiden Amerika yang baru terpilih tersebut entah bagaimana membantu kenaikan ruble, namun Kremlin tidak mengharapkan peristiwa seperti itu. Negara yang menjual minyak dan gas dalam bentuk euro dan dolar tidak tertarik pada mata uang negaranya yang menguat. Kementerian Ekonomi Rusia menguraikan kurs ruble yang rendah ketika merencanakan anggaran tersebut. Dengan kata lain, ruble yang melemah menguntungkan untuk para pembuat kebijakan, sehingga mereka sepertinya tidak akan merangsang kenaikan ruble dalam waktu dekat. Kemudian, tiba-tiba, Trump memenangkan pemilu. Menurut Deutsche Bank, kemenangannya membuat mata uang Rusia menarik para investor dikarenakan keputusan kenaikan suku bunga oleh Fed memiliki dampak yang sedikit pada ruble, dan hubungan antara Moscow dengan Washington DC dapat meningkat. Hal tersebut akan mendukung pasar keuangan. Saat ini, ruble dianggap menjadi mata uang safe haven yang baik bila dibandingkan dengan mata uang dari negara berkembang lainnya. Sebagai tambahan, para investor lebih memilih ruble Rusia dikarenakan mata uang tersebut tidak bergantung pada kebijakan Federal Reserve dan Donald Trump, Deutsche Bank meyakini. Namun demikian, pernyataan terakhir berlawanan dengan pernyataan sebelumnya: pada awalnya para analis di Deutsche Bank menyebut Trump sebagai alasan utama untuk kenaikan ruble, kemudian mereka mengatakan bahwa kebijakan Trump tidak akan mempengaruhi mata uang Rusia tersebut. |