
Parlemen Turki mengesahkan kesepakatan dengan Rusia terkait pembangunan saluran pipa gas Turkish Stream. Permasalahan ini tidak memprovokasi perselisihan tajam: 210 dari 223 para pembuat kebijakan mendukung implementasi proyek ini.
Kita tidak seharusnya melupakan bahwa dalam negara dengan regim otoriter, sebuah parlemen bukanlah apa-apa kecuali hanya sebuah hiasan. Oleh karena itu, apabila sebuah kesepakatan didukung oleh pemimpin negara tersebut, maka akan ditetapkan secara sah hanya dalam periode waktu sesingkat mungkin. Itulah yang terjadi dengan proyek Turkish Stream. Di bulan November, Presiden Rusia dan Turki menandatangani perjanjian antar pemerintah terkait permulaan pembangunan tersebut, dan dalam kurun waktu kurang dari sebuah parlemen dari kedua negara hampir dengan suara bulat menyetujui peraturan terkait pengesahan perjanjian tersebut. Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turki, Berat Albayrak, mengumumkan bahwa pembangunan tersebut akan dimulai pada awal tahun depan. Perlu untuk dicatat bahwa, merskipun adanya kepentingan bersama dalam proyek ini, Turki berhasil mendapatkan potongan harga yang besar untuk gas Rusia.
Proyek ini menggambarkan pembangunan dua saluran pipa gas di Laut Hitam. Saluran yang pertama adalah untuk memasok gas ke pasar Turki, dan saluran yang kedua adlaah untuk tempat perlintasan bahan bakar ke Eropa. Bagian lepas pantai dari saluran gas tersebut direncanakan akan berkisar 910 km dengan 180 km dalam saluran darat wilayah Turki. Proyek tersebut diperkirakan akan menelan biaya sebesar 11,4 milyar euro.