
Petaka yang ditimbulkan oleh referendum Brekit masih berpusat pada pound sterling. Awalnya kurs pound sterling menukik setelah hasil voting diumumkan, dan sekarang tekanan jual semakin intensif menyusul perkembangan selanjutnya dari Brexit. Mahkamah Agung mengeluarkan peraturan bahwa Parlemen harus mengadakan voting sebelum pemerintah memulai proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
Seperti yang dikemukakan dalam keputusan, pemerintahan Theresa May dapat memicu terjadinya pasal 50 dari Perjanjian Lisboa hanya apabila parlemen menyetujuinya. Bagaimanapun juga, Skotlandia dan Irlandia Utara tidak akan diberi pilihan untuk voting. Saat ini parlemen memiliki kesempatan untuk memutar balik keadaan.
Setelah keputusan pengadilan mulai diberlakukan, pound sterling melemah. Kurs negara Inggris tersebut menyentuh titik terendah terbary pada angka 1.2438 terhadap dolar AS. Pada waktu yang sama, imbal hasil obligasi 10-tahun meningkat sebesar 2 poin ke angka 1.39%. Sementara para ahli berpendapat bahwa parlemen cenderung tidak berpihak pada keinginan rakyat, prosesnya dapat berlangsung rumit dan menempatkan poundsterling di bawah tekanan.
Di samping itu beberapa analis percaya bahwa Dewan Bangsawan Britania Raya tidak akan menunda keputusan karena takut akan direstrukturisasi. Diduga karena para bangsawan akan berupaya sekuat mungkin untuk menghindari meninggalkan kantor.