
Jika kita ingin mendeskripsikan kemenangan Trump tanpa melebih-lebihkan, maka kemenangan Trump pada November lalu merupakan peristiwa politk yang sangat luar biasa. Hasil akhir dari pemilihan presiden Amerika Serikat tersebut membangkitkan reaksi publik dan mengakibatkan perubahan drastis pada kebijakan politik dan masalah perekonomian hingga merambat pada keputusan bersatunya negara-negara di benua Eropa. Janji Trump untuk merombak pemerintahan yang berfokus pada masalah dalam negeri sendiri ternyata bertentangan dengan kebijakan politik luar negeri AS yang sudah berjalan selama delapan tahun.
Apabila janji-janjinya ia tepati maka Eropa akan mengalami masa "kesendirian". Menurut para ahli, Uni Eropa harus benar-benar berusaha untuk bertahan selama masa pemerintahan Trump. Trump mengabaikan perjanjian kemitraan internasional yang masih berlaku. Hal ini sudah terbukti. Selain itu, Eropa tidak akan mampu untuk mengembangkan kebijakan countervailing sendirian.
Wolfgang Ischinger yang merupakan Duta Besar Jerman untuk Amerika Serikat, ketua Konferensi Keamanan Munich. dan seorang Profesor Kebijakan Keamanan dan Praktek Diplomatik di Hertie School of Governance di Berlin mengemukakan bahwa "dalam tempo waktu pendek dan sedang, penduduk Eropa tidak bisa menjamin keamanan negara tanpa bantuan AS. Maka kita semua harus bekerja sama untuk meyakinkan pemerintahan baru akan pentingnya persatuan dan perdamaian di benua Eropa."
Dari sudut pandangnya, Eropa harus mampu mempertahankan kepentingan ekonomi dan melaksanakan langkah penanggulangan, misalnya saja ketika Trump mengusulkan kenaikan tarif impor di Eropa. Namun kita juga harus ingat bahwa perekonomian tidak boleh dicampur dengan masakah politk dan keamanan negara.
"Alih-alih menunggu apa yang akan dicuitkan Trump di Twitter miliknya, kita sebagai penduduk Eropa harus memiliki fondasi bagi Eropa, yaitu menjadi negara yang tangguh, sanggup mengambil tindakan, dan berkomitmen terhadap nilai-nilai hidup dunia Barat. Dari posisi ini kita dapat menegaskan bahwa kepentingan kita merupakan kunci saat menghadapi AS adalah dengan kepercayaan diri. Hanya itulah respon yang dapat Eropa berikan," sang ahli menyimpulkan