
BBC News melaporkan bahwa India tengah mempertimbangkan kemungkinan untuk menutup seluruh stasiun pengisian bensin di negara tersebut agar dapat membatasi impor bahan bakar dari luar negeri. Dalam jangka panjang, pemerintah India akan menurunkan defisit neraca perdagangan dan menopang nilai tukar rupee yang menurun dengan cara ini.
Menurut Menteri Perminyakan India Veerappa Moily, pemerintah juga akan meluncurkan program penghematan bahan bakar yang ditujukan untuk mengurangi permintaan bensin dan komoditas energi lainnya hingga 3%. Secara keseluruhan, seluruh upaya yang diajukan oleh Kementerian Perminyakan bertujuan untuk menghemat 160 miliar rupee ($2,4 miliar) anggaran.
Moily menyoroti bahwa resolusi menutup pom bensin di malam hari belum diterapkan, hal ini akan diprioritaskan untuk dibahas pada lingkungan pemerintahan tertinggi. Setelahnya, pemerintah India membuat pernyataan resmi yang menolak pernyataan Menteri Perminyakan India tersebut.
Di India, defisit neraca perdagangan mencapai rekor 6,7% dari PDB di tahun sebelumnya. Kenaikan ini disebabkan terutama oleh bahan bakar yang harganya tetap tinggi sementara konsumsi terus naik.
Di pasar internasional, minyak diperdagangkan dalam dolar AS. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan minyak India harus menggunakan lebih banyak mata uang asing sementara Bank Sentral harus menjualnya dan kehilangan sebagian cadangannya. Permintaan harian mata uang asing dari bank dan perusahaan diperkirakan hampir mencapai $300 miliar.
Di tahun ini, nilai rupee jatuh 20% melawan dolar AS. Ini adalah hasil terburuk dibandingkan dengan mata uang lainnya di pasar berkembang yang besar.