
Menurut para analis, pada kuartal ketiga tahun 2020, perekonomian China menjadi satu-satunya di dunia yang berhasil bertahan. Perekonomian negara tersebut terus pulih setelah gelombang pertama COVID-19.
Dalam periode tersebut, perekonomian China tumbuh sebesar 4,9% dibandingkan tahun 2019. Selama sembilan bulan terakhir, PDB negara tersebut meningkat sebesar 0,7%. Para ekonom sedikit kecewa terhadap kenaikan indikator riil karena mereka telah memperkirakan lonjakan sebesar 5%. Namun, dinamika keseluruhan ini disambut dengan tanggapan positif. Secara khusus, pada kuartal pertama tahun ini, perekonomian negara tersebut mengalami kontraksi sebesar 6,8%, yang menunjukkan penurunan terparah dalam hampir 30 tahun. Penurunan tersebut disebabkan oleh lockdown berkepanjangan dan tindakan karantina ketat yang diberlakukan untuk menahan penyebaran virus. Beberapa ekonom percaya bahwa China adalah contoh yang baik bagi seluruh dunia.
Perekonomian China telah menunjukkan kebangkitan yang menyakinkan karena tindakan tepat waktu yang diambil oleh pihak berwenang. Terlebih, sebagian besar perusahaan dapat kembali ke ritme kerja normal mereka berkat respon cepat terhadap kesulitan yang disebabkan virus. Pada saat yang sama, pemerintah berhasil memanfaatkan permintaan global terhadap peralatan medis dan teknologi yang diperlukan untuk pekerjaan jarak jauh. Tidak seperti kebanyakan negara lain, pihak berwenang China aktif berpartisipasi dalam masalah keuangan. Bantuan untuk usaha kecil dan menengah berada di bawah kendali pemerintah. Pada saat yang sama, People's Bank of China fokus pada dukungan likuiditas.
Meskipun perekonomian negara tersebut tengah meningkat, banyak jebakan yang gagal dihindari. Tentu saja, China menghentikan penyebaran virus, namun aktivitas konsumennya tidak mencapai level sebelum krisis. Kinerja terburuk tercatat dalam bidang-bidang seperti layanan, pariwisata serta pendidikan dan perjalanan.
Meningkatnya utang perusahaan dan rumah tangga adalah masalah lain yang perlu diselesaikan. Terlebih, meningkatnya angka pengangguran juga menimbulkan kekhawatiran. Para investor tetap berhati-hati karena China Evergrande Group, pengembang properti terbesar kedua di negara tersebut, melaporkan peningkatan utang. Situasi saat ini juga diperparah dengan ketegangan dengan AS dan negara lain.
Komentar: