
China merasa sangat tenang setelah kemenangan Biden, sehingga sama sekali lupa bahwa Donald Trump masih menjabat. Sementara Beijing mencoba menghangatkan hubungan dagang dengan kabinet Biden, Trump telah menerapkan sanksi baru terhadap China sebagai hadiah perpisahan.
Presiden Trump telah memasukkan China National Offshore Oil Corp. (CNOOC), salah satu perusahaan minyak milik negara terbesar, ke dalam daftar hitam. Alasan tindakan hukuman baru ini adalah awal operasi pengeboran di perairan Laut China Selatan yang disengketakan. AS menganggapnya sebagai benteng militer, sedangkan China bersikukuh bahwa ini adalah eksplorasi geologi. Dikenal karena temperamennya yang buruk dalam urusan China, Trump segera memberlakukan sanksi baru. Ia juga merencanakan beberapa langkah keras baru melawan Beijing pada minggu-minggu terakhir masa jabatannya.
AS serupa penembak jitu dalam hal sanksi dan sanksi baru ini akan menjadi pukulan besar bagi CNOOC. Tercatat perusahaan China tersebut terlibat dalam proyek bersama dengan ExxonMobil. Perusahaan ini beroperasi dengan peralatan Amerika. Perusahaan tersebut memiliki $20 miliar dalam peredaran utang dan investor asing memiliki 16,5% saham di unit CNOOC yang terdaftar di Hong Kong. Sanksi ini belum berlaku, namun saham CNOOC telah turun sebanyak 14%.
"China berharap Amerika Serikat tidak akan membangun penghalang dan hambatan untuk kerja sama dan mendiskriminasi perusahaan China," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying.
Komentar: